Jumat, 7 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Rubio Perketat Kampanye Tekanan Kuba, Ekonomi Makin Terjepit

Kampanye tekanan Kuba membuat ekonomi pulau itu makin terjepit
Marco Rubio disebut mendorong kampanye tekanan Kuba yang makin keras terhadap Havana. (Ilustrasi: AI)

“Every time they create a new mechanism in which they try to get out of the noose, we just close it off,” tegas Rubio lagi. Bagi Havana, ruang bernapas makin sempit. Bagi Washington, tekanan baru saja dimulai.

Perusahaan asing kabur, pasar gelap tumbuh

Di balik layar, perusahaan asing mulai meninggalkan Kuba karena ancaman sanksi. Perusahaan AS, terutama distributor bahan bakar, masuk saat sejumlah perusahaan negara Kuba seperti perusahaan minyak dan gas milik negara tertekan berat. Dari situ muncul pasar gelap kapitalis yang masih embrional.

Seorang pebisnis di sektor bahan bakar mengatakan sebagian bisnis Kuba bahkan mengirim “human mules” ke Miami, mengenakan rantai emas tebal untuk dipakai sebagai alat tukar karena pembatasan perbankan AS membuat transaksi dengan Havana nyaris mustahil. Cerita ini menggambarkan betapa rapuhnya jalur pembayaran formal yang tersisa.

Dalam enam bulan pertama tahun ini, ekspor bahan bakar AS ke Kuba naik menjadi $96 million, lebih dari separuhnya terjadi pada June, menurut U.S.-Cuba Trade and Economic Council.

Presiden lembaga itu, John Kavulich, mengatakan, “Trump and Rubio have initiated the most effective sanctions program against a target country than any of their predecessors,” dan menambahkan, “We’ve been around since 1994 and never seen anything like this.”

Venezuela, sumber lama yang ikut hilang

Tak ada yang dinilai lebih menyakiti Kuba daripada keputusan Trump pada Jan. 3 untuk menyita Nicolas Maduro dari Venezuela, patron pulau itu seperti halnya Hugo Chavez setelah Uni Soviet runtuh pada 1991. Venezuela sebelumnya memasok hingga 100,000 barrels of oil daily untuk Kuba.

Kini, Kuba nyaris tak mampu menjaga lampu tetap menyala. Negara itu juga kehilangan sumber pendapatan besar dari penjualan sekitar separuh minyaknya di pasar global. Rubio menyebut Kuba untuk pertama kalinya dalam sejarah kehilangan dua hal yang selama ini mereka andalkan: sponsor luar dan kurangnya perhatian AS sebagai prioritas utama.

“For the first time in Cuba’s history, Cuba lacks two things they’ve always relied on: an outside sponsor and the U.S.’s lack of attention on it as a top priority,” kata Rubio. Ia menegaskan, “They’re not going to get a sponsor in the next 2½ years, so that’s the dynamic that’s changed,” dan menambahkan, “It’s forced them into a very tough spot.”

Gugatan baru menunggu, embargo tetap berlaku

Tekanan hukum juga ikut bergerak. Sejumlah gugatan baru diajukan setelah putusan Mahkamah Agung AS yang terkait dengan undang-undang yang memungkinkan warga negara AS menggugat perusahaan swasta yang memperdagangkan properti yang disita saat Revolusi Kuba.

Undang-undang itu disebut LIBERTAD Act. Aturan ini mengokohkan embargo Kuba, dan hanya bisa dicabut jika Kuba membebaskan tahanan politik, menjamin hak-hak sipil, dan menggelar pemilu bebas. Dengan jalur ekonomi, diplomatik, dan hukum yang sama-sama menekan, Havana kini menghadapi ruang gerak yang makin sempit dari semua arah.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda