ZURICH — Tekanan terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, mencapai titik didih baru setelah serikat pemain global, FIFPRO, secara terbuka mengkritik keras kepemimpinannya.
Langkah ini menyusul rencana kontroversial FIFA untuk menjual sebagian saham hak komersial Piala Dunia kepada pihak swasta, sebuah kebijakan yang kini telah dibatalkan namun menyisakan amarah mendalam di komunitas sepak bola internasional.
FIFPRO melontarkan kecaman tajam terhadap apa yang mereka sebut sebagai penyalahgunaan kekuasaan presiden. Dalam pernyataan resminya, mereka menilai proses pengambilan keputusan yang dilakukan secara rahasia dan tertutup tersebut telah mencederai integritas olahraga.
Serikat yang mewakili lebih dari 70.000 pesepak bola profesional di seluruh dunia ini menuntut adanya reformasi tata kelola yang mendesak, bukan sekadar upaya menutupi masalah yang ada.
Sikap Tegas UEFA dan Mundurnya Dukungan FA
Di saat bersamaan, UEFA tetap konsisten dengan ancaman boikot terhadap turnamen-turnamen yang diselenggarakan FIFA.
Meski Infantino telah menyampaikan permintaan maaf atas kegagalan skema komersial tersebut, badan sepak bola Eropa itu menyatakan bahwa langkah tersebut tidak mengubah pendirian mereka.
UEFA menekankan bahwa hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino adalah faktor utama yang belum terselesaikan.
Menurut pernyataan resmi UEFA, syarat untuk mencabut boikot bukanlah sekadar pembatalan rencana investasi, melainkan adanya jaminan nyata agar upaya serupa tidak kembali terulang di masa depan. Hingga saat ini, UEFA merasa jaminan tersebut belum diberikan.
Situasi ini diperparah dengan langkah Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) yang secara resmi menarik dukungan untuk pencalonan kembali Infantino dalam pemilihan presiden mendatang yang dijadwalkan pada Maret 2027.
Kesenjangan Dukungan Global
Di tengah badai kritik, Infantino masih mengantongi dukungan dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Dalam sebuah pertemuan di Maroko, komite eksekutif CAF secara bulat menegaskan kembali komitmen mereka untuk mendukung Infantino.
Mereka bahkan menyampaikan apresiasi atas kontribusi sang presiden bagi perkembangan sepak bola di benua Afrika, posisi yang sangat bertolak belakang dengan sikap federasi-federasi di Eropa.
FIFA sendiri melalui dewan manajemen menyatakan tetap memberikan dukungan penuh kepada Infantino setelah melalui tujuh jam pembicaraan krisis. FIFA berjanji akan melakukan peninjauan menyeluruh terhadap kegagalan proposal yang dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise (FFE) tersebut dan berjanji akan melaporkan temuannya di pertemuan Dewan FIFA berikutnya.
Dampak dari ketegangan ini akan segera diuji dalam waktu dekat. Piala Dunia Wanita U-20 bulan depan menjadi ujian awal bagi ancaman boikot ini.
Situasi yang lebih krusial akan terjadi pada Oktober mendatang, saat babak play-off kualifikasi Piala Dunia Wanita 2027 yang melibatkan tim nasional dari Inggris, Skotlandia, Wales, Irlandia Utara, dan Republik Irlandia berlangsung.
Ketidakpastian partisipasi tim-tim tersebut kini menjadi tantangan nyata bagi otoritas FIFA untuk meredam krisis legitimasi yang kian meluas.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.