WASHINGTON — dukungan Trump kembali jadi sorotan setelah Presiden Donald Trump membanggakan rekor dukungannya di pemilihan pendahuluan Partai Republik, meski dua kandidat pilihannya justru kalah dalam pekan yang sama. Salah satu yang tumbang adalah Rep. Andy Ogles dari Tennessee, yang sehari sebelumnya masih dipuji Trump sebagai “a Conservative Warrior”.
Kekalahan Ogles datang dari Charlie Hatcher dalam pemilihan pendahuluan di distrik kongres ke-5 Tennessee yang baru digambar ulang. Hatcher meraih 53,2 persen suara, sedangkan Ogles memperoleh 46,8 persen, menurut Associated Press.
Dukungan Trump di Tennessee tak cukup menahan arus
Trump mencoba meredam arti kekalahan itu lewat unggahan di Truth Social pada Jumat.
Ia menulis, “Last night was another good night for Endorsements, 8-1, and the 1 was a person who I remained loyal to even though he had virtually no chance of winning, and was running against a Great “Trump” Candidate, and former Agricultural Commissioner of Tennessee, named Charlie Hatcher,” Trump said Friday on Truth Social.
Pesan itu menunjukkan satu hal: Trump masih ingin menampilkan endorsemennya sebagai aset politik, bukan beban. Tapi angka di Tennessee bercerita lain. Ogles kalah dalam kontestasi yang sudah lebih dulu dibayangi kontroversi soal keuangan kampanye dan riwayat pribadinya.
Ogles, anggota Freedom Caucus yang konservatif, sebelumnya sempat disorot setelah FBI menyita ponselnya pada 2024 dalam penyelidikan pendanaan kampanye. Kementerian Kehakiman AS kemudian sepakat mengembalikan perangkat itu, yang menandakan penyelidikan dihentikan. Pada 2023, Ogles juga mengakui telah salah menggambarkan gelar kuliahnya.
Angka yang tidak seindah klaim
Trump sebenarnya sudah lebih dulu memberi dukungan awal kepada Ogles pada musim gugur lalu. Bahkan, sekitar 24 jam sebelum kekalahannya, Trump kembali memuji Ogles sebagai “a Conservative Warrior” dan menyatakan dukungan “complete and total endorsement”.
Tetapi setelah hasil keluar, Trump berbalik mendukung Hatcher, yang akan maju menghadapi Demokrat Chaz Molder pada November. “Good luck Charlie! Run tough and hard,” tulis Trump, lalu menutup dengan, “You have my Complete and Total Endorsement!”
Bagi kubu Trump, dua kutub ini penting. Di satu sisi, ia masih bisa menunjukkan pengaruh di internal partai. Di sisi lain, kekalahan beruntun memberi sinyal bahwa dukungan presiden belum otomatis menjamin kemenangan di semua daerah. Soalnya, pemilih tetap memutuskan sendiri di bilik suara.
Implikasinya juga terasa untuk strategi Partai Republik menjelang pemilu umum.
Jika endorsemen presiden hanya efektif di sebagian wilayah, maka kandidat yang terlalu bergantung pada nama Trump bisa kesulitan saat menghadapi pemilih lokal yang menimbang rekam jejak, kontroversi, dan lawan yang lebih rapi membangun kampanye. Ini bukan sekadar soal satu kursi.
Ini soal seberapa jauh cap politik Trump masih bekerja ketika nama itu sudah ada di surat suara.
Defisit lain di Michigan
Masalah Trump tidak berhenti di Tennessee. Ia juga menelan kekalahan kedua pekan ini ketika kandidat pilihannya di pemilihan pendahuluan Republik Michigan, Amir Hassan, kalah dari Thomas J. Smith, pensiunan insinyur yang sempat menghentikan kampanyenya bulan lalu.
Hassan meraih sekitar 33,2 persen suara, sementara Smith unggul jauh dengan 50,4 persen, menurut Associated Press. Smith kini akan berhadapan dengan petahana Demokrat, Rep. Kristen McDonald Rivet, pada November.
Trump sendiri sebelumnya pernah sesumbar bahwa “endorsements within the Republican Party have been virtually insurmountable,” dan bahwa “almost everyone I Endorse WINS, and wins by a lot.” Namun angka terbaru dari Tennessee dan Michigan membuat klaim itu terdengar lebih rapuh dari biasanya.
“Good luck Charlie! Run tough and hard,” tulis Trump setelah Ogles tumbang, sebuah kalimat yang sekaligus menegaskan pola lama: saat kandidat pilihan jatuh, dukungan bisa pindah cepat, tapi angka suara tetap tak bisa diputar balik.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.