Jumat, 14 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Penerbangan umpan Air Force One Trump Picu Sorotan Keamanan

Penerbangan umpan Air Force One Trump jadi sorotan keamanan
Penerbangan umpan Air Force One memicu perdebatan soal keamanan dan kerahasiaan perjalanan presiden AS. (Ilustrasi: AI)

McDonald menilai penutupan jendela bisa berkaitan dengan upaya menyembunyikan keberadaan pesawat di udara. Ia menyebut, berdasarkan laporan yang ia baca, Iran tidak punya radar dan kekuatan udara yang besar, sehingga cahaya dari pesawat justru berisiko membuatnya terlihat.

Gage punya pembacaan lain. Ia menyebut langkah itu “kind of a silly precaution” agar orang di luar tidak melihat ada truk pengangkut yang mendekat ke pesawat dan bertanya-tanya. “I don’t want to speculate because I’m not an air safety specialist, but I would say it was just so that they couldn’t see anything that was going on,” ujarnya.

Jejak lama, polemik baru

McDonald mengatakan ia yakin ada aset lain di udara yang ikut melindungi Air Force One, dan memindahkan Trump ke pesawat militer itu hanyalah lapisan tambahan dari sistem pengamanan. “There’s no way in the world there was no care and concern for those other people on that plane,” katanya.

Manuver serupa bukan kali pertama dipakai. Pada 2000, Presiden Bill Clinton menggunakan taktik sejenis untuk menuju Pakistan, saat pesawat tanpa tanda yang tiba lebih dulu dibuat seolah-olah menjadi rombongan utama, menurut laporan UPI pada saat itu.

Yang memicu kritik kali ini adalah keputusan memakai model Air Force One yang lebih baru, pesawat Boeing 747-8 yang sudah dimodifikasi dan disebut The New York Times memiliki kemampuan anti-rudal yang lebih terbatas. Saat itu, Trump disebut awalnya disarankan naik pesawat lama karena alasan keamanan, sebelum ia mengatakan ingin memakai pesawat lama “for old time’s sake”.

Senator Demokrat Richard Blumenthal pada Senin menyerukan briefing di Kongres. Ia ingin tahu langkah apa yang diambil untuk melindungi staf dan wartawan di pesawat yang dinilai terlalu berbahaya untuk ditumpangi presiden.

Dari kubu lain, mantan penasihat senior Obama David Axelrod menyebut tindakan itu “kind of stunning”, sementara mantan juru bicara Departemen Luar Negeri era Biden, Ned Price, menulis di media sosial bahwa “subterfuge is sometimes a necessary safeguard” untuk melindungi presiden.

Pada saat perdebatan makin melebar, Gedung Putih belum langsung memberi respons atas pertanyaan The Independent. Dan isu utamanya masih sama: seberapa jauh kerahasiaan boleh dipakai ketika nyawa presiden dipertaruhkan.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda