Kalimat pendeknya tajam. Harganya nyata. Dan dampaknya terasa jauh melampaui Amerika. Saat pasokan energi dari kawasan Teluk tersendat, tekanan biasanya merambat ke pasar minyak, biaya logistik, dan harga bahan bakar di banyak negara, termasuk negara-negara importir yang bergantung pada jalur laut tersebut.
Dalam bahan sumber, perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari dengan tujuan mengakhiri program nuklir Iran dan memicu pergolakan internal untuk menjatuhkan pemerintahan di Tehran. Namun, seperti dilaporkan The Guardian, SCMP, dan CNA, perang justru membuat Selat Hormuz makin diperebutkan dan negosiasi damai tetap buntu.
Jelang pemilu, isu energi jadi beban politik
Trump juga mengaitkan naiknya biaya minyak dan gas dengan perang yang sedang berlangsung. Menurut bahan sumber, beban ekonomi akibat konflik ini kemungkinan akan menjadi isu utama dalam pemilu paruh waktu pada November. Artinya, harga energi bukan cuma urusan pasar, tapi juga taruhannya politik di Washington.
Di tengah semua itu, Trump ikut meredam kritik soal kondisi di kapal induk USS Abraham Lincoln yang dikerahkan ke Timur Tengah. Keluarga prajurit AS sempat mengeluhkan kondisi hidup yang sulit dan kesehatan mental yang memburuk, bahkan muncul laporan percobaan bunuh diri. Trump menolak anggapan bahwa kapal itu sudah terlalu lama dikerahkan dan menyebut masa tugasnya justru “not nearly enough”.
Ia juga mengonfirmasi kapal tersebut akan diganti oleh kapal lain yang “very similar”. Dengan perang yang belum mereda dan Selat Hormuz masih terkunci, perhatian publik kini tertuju pada langkah Washington berikutnya dan apakah ancaman terbaru Trump hanya jadi tekanan retoris atau awal dari kebijakan baru.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.