Fortune menyebut penempatan USS Abraham Lincoln sudah berlangsung lebih dari 240 hari tanpa jeda, sebuah durasi yang memicu sorotan soal kondisi awak kapal, pasokan, dan beban operasi. Acting navy secretary Hung Cao mengatakan Lincoln “will return home soon” lewat unggahan media sosial pada Jumat.
Di laporan lain, PBS NewsHour menyoroti bagaimana perhatian Trump juga bergeser ke Iran dan belahan bumi barat, sementara Financial Times menyebut polemik kapal induk itu sebagai tanda meningkatnya kegelisahan atas perang Iran. Dua laporan itu memperkuat gambaran bahwa perang bukan cuma soal medan tempur, tetapi juga soal ketahanan logistik dan dukungan politik yang terus terkikis.
Bagi pasar dan kebijakan energi, pernyataan Trump soal menghantam ekonomi Iran jelas bukan kabar kecil. Setiap sinyal baru dari Washington bisa langsung dibaca sebagai pertanda tekanan yang lebih keras, dan itu berpotensi memengaruhi ekspektasi soal arah perang, suplai, serta respons sekutu Amerika di kawasan.
Trump sendiri tampak tetap pada garis keras. Dalam penampilannya di Garden City, New York, ia mengakui telah memakai militer Amerika “a little bit more than I wanted to,” namun tetap menyebut operasi terhadap Iran berjalan baik. Soal harga minyak, ia juga tak menunjukkan niat mundur.
“I’ll never apologize,” kata Trump. “I did the right thing.”
Dengan nada seperti itu, pasar dan lawan politiknya sekarang menunggu langkah ekonomi berikutnya. Gedung Putih belum memberi batas waktu, dan sanksi Iran tampaknya baru masuk fase yang lebih keras.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.