NAMANG — Upaya mengangkat daya saing komoditas unggulan daerah kini memasuki babak baru melalui kehadiran holding usaha sektor pertanian dan perkebunan. Inisiatif strategis ini secara resmi diluncurkan di Kebun Nusantara PT Cinquer Argo Nusantara (CAN), Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah, pada Sabtu (15/8/2026).
Langkah ini menjadi manifestasi konkret pemerintah untuk menyatukan ekosistem UMKM ke dalam rantai pasok yang lebih produktif. Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Fery Afriyanto, hadir langsung mewakili Gubernur Hidayat Arsani untuk meresmikan program tersebut bersama Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Agus Rachman.
Fokus utama dari holding ini adalah komoditas lada putih Muntok (Muntok White Pepper). Tidak sekadar komoditas primer, lada asal Bangka Belitung kini diproyeksikan menjadi produk bernilai tambah yang memenuhi standar internasional dengan tujuan ekspor ke Belanda. PT CAN sendiri ditetapkan sebagai operator holding setelah melewati serangkaian asesmen kualifikasi yang ketat.
Transformasi Berbasis Klaster
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Agus Rachman, menjelaskan bahwa holding ini dibangun di atas empat pilar utama, yakni agregasi, inkubasi, pemasaran, dan pembiayaan. Tujuannya adalah menciptakan model bisnis yang terintegrasi secara sistematis agar usaha mikro dan kecil tidak berjalan sendiri-sendiri saat mengakses pasar global.
Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Menengah, Metty Kusmayantie, menambahkan bahwa penetapan PT CAN sebagai operator holding didasarkan pada skor komposit 4,08 dari skala 5,00. Angka tersebut menempatkan perusahaan dalam kategori sangat baik (excellence) untuk menjadi percontohan bagi pengembangan UMKM di masa depan.
Secara statistik, urgensi penguatan sektor ini memang terlihat nyata. Data menunjukkan terdapat 133.452 UMKM di Bangka Belitung, di mana 123.481 atau 92,53 persen di antaranya merupakan usaha mikro. Selain itu, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah telah mencapai 53,21 persen berdasarkan hasil kajian tahun 2025.
Strategi Hilirisasi dan Akses Pembiayaan
Pendiri sekaligus CEO PT CAN, Hatami Nugraha, menekankan bahwa tantangan utama komoditas lada terletak pada perbaikan ekosistem yang menyeluruh. Pendekatan perusahaan tidak hanya sebatas produksi, tetapi juga mencakup pemberdayaan petani, penjaminan keterelusuran produk, hingga pengolahan nilai tambah untuk pasar domestik dan global.
Sinergi ini turut melibatkan berbagai pihak, termasuk Badan Karantina Indonesia serta lembaga pembiayaan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). Momen peluncuran di Kebun Nusantara tersebut bahkan diisi dengan penandatanganan akad massal KUR bagi petani dan pelaku UMKM lokal. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa korporasi petani memiliki permodalan yang kuat untuk menopang produksi.
Dampak langsung dari keberadaan holding ini diharapkan mampu memperluas akses pelaku usaha lokal terhadap teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dengan ekosistem yang terhubung melalui platform SAP UMKM, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap UMKM di Bangka Belitung dapat menaikkan kelasnya melalui hilirisasi produk yang berdaya saing tinggi.
Di akhir rangkaian kegiatan, Pj. Sekda Fery bersama rombongan meninjau langsung fasilitas perendaman dan pencucian lada serta memberikan sertifikat kesehatan tumbuhan. Langkah simbolis tersebut menegaskan kesiapan lada putih Muntok untuk segera dikirim ke pasar Eropa.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.