Suasana mencekam di pusat Kota Banda Aceh kini telah mencair. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan situasi keamanan sudah terkendali sepenuhnya pasca-bentrokan antara massa aksi dan aparat kepolisian di depan Masjid Raya Baiturrahman, Sabtu (15/8) lalu.
Seluruh jajaran kepolisian di lapangan telah diperintahkan untuk tetap siaga demi menjaga ketertiban umum agar aktivitas masyarakat kembali berjalan tanpa hambatan.
Konfirmasi mengenai pemulihan kondisi ini disampaikan langsung oleh Listyo Sigit di sela-sela Upacara Penurunan Bendera Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8). Ia menekankan bahwa pihaknya terus memantau dinamika di lapangan secara ketat. Tidak ada lagi celah bagi gangguan keamanan yang sempat mencuat di hari peringatan tersebut.
Kronologi dan Pemicu Ketegangan
Kericuhan yang terjadi pada Sabtu pekan lalu bermula dari peringatan Hari Damai Aceh ke-21. Saat itu, konsentrasi massa yang memadati sekitar taman kota depan Masjid Raya Baiturrahman tiba-tiba memanas. Sejumlah oknum mulai melakukan aksi pelemparan ke arah barisan petugas kepolisian yang berjaga dengan perlengkapan lengkap.
Situasi makin tak terkendali. Aparat terpaksa melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa. Dalam kekacauan yang terjadi, beberapa mobil di area tersebut dilaporkan mengalami kerusakan parah.
Puncaknya, sekelompok massa nekat menurunkan bendera Merah Putih yang berkibar di tiang depan masjid dan menggantinya dengan bendera bulan bintang. Insiden ini sempat menyita perhatian banyak pihak karena terjadi di tempat yang sangat simbolis bagi warga Aceh.
Ketegangan mencapai titik didih ketika Kapolda Aceh, Irjen Pol Ruddi Setiawan, yang berusaha mendekati peserta aksi untuk melakukan dialog, sempat dikerubungi oleh massa yang emosional. Namun, pendekatan persuasif yang dilakukan Kapolda perlahan mendinginkan suasana.
Menjelang waktu salat Zuhur, dialog akhirnya membuahkan hasil. Kapolda menyepakati pembebasan dua peserta aksi yang sebelumnya sempat diamankan petugas.
Respon Pemerintah Pusat
Pemerintah menanggapi insiden ini dengan kepala dingin namun tetap tegas. Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menegaskan bahwa kericuhan tersebut hanyalah ulah segelintir kelompok yang sengaja ingin memanaskan suasana. Ia memastikan aksi tersebut tidak mewakili suara mayoritas masyarakat Aceh yang sebenarnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.