Menurut Dudung, ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan momentum tanggal 15 Agustus—hari yang seharusnya menjadi refleksi kedamaian—untuk memprovokasi keadaan. Ia berulang kali menegaskan posisi Aceh yang tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Baginya, provokasi seperti ini sudah terbaca polanya.
“Itu memanfaatkan situasi, memang tanggal 15 Agustus itu hari perdamaian. Cuma ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan itu. Itu hanya segelintir, oknum saja,” ujar Dudung saat memberikan keterangan di lingkungan Istana Merdeka, Senin (17/8).
Kini, operasional di kawasan Masjid Raya Baiturrahman sudah kembali normal. Bendera Merah Putih telah berkibar kembali di tempatnya. Warga Banda Aceh pun sudah bisa beraktivitas seperti biasa tanpa perlu lagi dibayangi rasa khawatir akan sisa-sisa ketegangan. Polisi menyatakan tidak ada lagi kerumunan massa yang berpotensi mengganggu ketertiban umum di titik tersebut.
Meski situasi sudah mereda, kepolisian tidak akan menarik personel pengamanan secara terburu-buru. Patroli rutin tetap diperkuat di titik-titik vital Kota Banda Aceh untuk mendeteksi potensi ancaman sedini mungkin.
Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan. Kepercayaan masyarakat menjadi prioritas utama bagi kepolisian dalam memulihkan stabilitas wilayah pasca-insiden tersebut.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.