Pelataran kantor DPW Partai Perindo Sulawesi Selatan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, berubah menjadi panggung kebersamaan yang hangat pada Senin pagi, 17 Agustus 2026.
Puluhan orang berkumpul di sana, mengenakan seragam rapi dengan wajah antusias menyambut upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ada yang berbeda dari barisan peserta upacara tahun ini.
Kelompok penyandang disabilitas berdiri tegak di antara barisan, terlibat aktif dalam rangkaian seremoni kenegaraan tersebut.
Mereka bukan sekadar tamu undangan atau penonton pasif yang duduk di pinggir lapangan. Para penyandang disabilitas ini turut mengambil bagian dalam prosesi upacara, merasakan detak jantung nasionalisme yang sama dengan peserta lainnya.
Inisiatif dari Partai Perindo Sulsel ini menjadi upaya nyata untuk meruntuhkan sekat sosial yang selama ini memisahkan kelompok disabilitas dari ruang-ruang publik formal.
Suara dari Lapangan
Hermin Paongan, salah seorang peserta yang hadir, tak bisa menyembunyikan rasa harunya saat barisan dibubarkan. Matanya berbinar. Baginya, momen ini adalah bentuk pengakuan yang selama ini ia tunggu-tunggu.
“Sangat senang, bahagia, karena kami masih dilibatkan untuk bergabung bersama Bapak dan Ibu di Partai Perindo ini,” ucap Hermin dengan nada bicara yang bergetar penuh syukur. Baginya, keterlibatan ini adalah pesan bahwa penyandang disabilitas memiliki tempat yang setara untuk merayakan kemerdekaan bangsa.
Panggung upacara tersebut pun tak disia-siakan Hermin. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menitipkan aspirasi besar bagi rekan-rekannya yang masih berjuang di luar sana.
Ia berharap Partai Perindo tidak berhenti pada seremoni perayaan semata, melainkan mampu mengorkestrasi program yang lebih konkret dan berdampak luas bagi komunitasnya.
Bagi Hermin, ini bukan sekadar tentang perayaan satu hari, melainkan tentang keberlanjutan perhatian bagi mereka yang sering kali tersisih dari arus utama pembangunan.
“Harapannya, semoga khusus untuk Partai Perindo kiranya kinerja dari Partai Perindo akan lebih bagus lagi, lebih luas lagi jangkauannya, terlebih buat kaum disabilitas,” ujar Hermin tegas.
Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai
Di balik kemeriahan upacara, terselip catatan kritis dari Hermin tentang realitas di lapangan. Ia memandang perhatian terhadap kaum disabilitas di Indonesia masih jauh dari kata ideal. Masih banyak individu dengan keterbatasan fisik yang belum tersentuh bantuan layak, baik dari institusi pemerintah maupun dukungan dari lingkungan keluarga terdekat mereka.
Ketimpangan ini membuat inklusi sosial sering kali hanya menjadi jargon di atas kertas. Hermin berharap, ruang-ruang publik yang inklusif seperti yang ia rasakan hari ini bisa menular ke banyak lembaga lain.
Ketika kelompok disabilitas mendapatkan ruang untuk hadir, suara mereka tidak lagi menjadi bisikan yang tak terdengar. Suara itu akan berubah menjadi tuntutan kebijakan yang lebih berpihak pada kebutuhan spesifik di lapangan.
Upacara HUT RI ke-81 di markas Partai Perindo Sulsel ini setidaknya menunjukkan langkah awal yang baik. Ada itikad untuk merangkul dan melibatkan. Namun, ujian sesungguhnya baru akan dimulai setelah bendera diturunkan.
Tantangan ke depan bagi partai politik adalah menerjemahkan semangat inklusivitas ini ke dalam kebijakan yang mampu menyentuh langsung denyut nadi kehidupan para penyandang disabilitas di seluruh pelosok Sulawesi Selatan.
Kini, publik menunggu realisasi dari komitmen tersebut. Apakah keterlibatan ini akan membuahkan program pemberdayaan ekonomi atau aksesibilitas yang lebih manusiawi bagi mereka, atau sekadar menjadi potongan foto yang manis di media sosial?
Hermin dan komunitas disabilitas tetap menanti langkah konkret berikutnya, sebab bagi mereka, kemerdekaan sejati adalah ketika akses dan peluang terbuka tanpa kecuali.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.