Sabtu, 22 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Obesitas Jadi Pasar Menggiurkan, BPOM-Novo Nordisk Ingatkan Bahaya Pelangsing Instan

Pelangsing instan dan peringatan bahaya obesitas
BPOM dan Novo Nordisk mengingatkan risiko pelangsing instan di tengah naiknya minat penanganan obesitas. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — pelangsing instan sedang ikut menumpang pada naiknya perhatian terhadap obesitas. Di saat orang mencari hasil cepat, BPOM, Novo Nordisk, dan dokter gizi justru mengingatkan bahwa produk penurun berat badan yang tidak jelas keamanan dan izin edarnya bisa membawa risiko kesehatan yang serius.

Pesan itu mengemuka dalam Health Corner bertema Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Obat Abal-abal, yang dikutip pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Masalahnya bukan cuma soal bentuk tubuh. Cara menurunkan berat badan yang terlalu ekstrem juga bisa menyesatkan, apalagi kalau seseorang tergoda promosi di platform daring atau media sosial.

Pelangsing instan, diet ekstrem, dan janji hasil cepat

Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya, dr Prinindita Artiara Dewi, menyoroti kebiasaan diet yang terlalu membatasi makan. Ia memberi contoh pola seperti hanya makan sekali sehari atau sengaja menghindari karbohidrat sepenuhnya dan hanya memilih protein.

“Misalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja misalnya contohnya seperti itu,” ujar dr Prinindita dalam Health Corner bertema “Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Obat Abal-abal” dikutip pada Sabtu (22/8/2026).

Menurut dia, pendekatan seperti itu bukan jalan yang tepat untuk menurunkan berat badan. Tubuh tetap membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin, dan mineral. Kebutuhan energi dan protein tiap orang pun berbeda, sehingga pola makan perlu disusun secara individual, bukan ikut-ikutan tren yang beredar di internet.

Ini penting. Soalnya, ketika orang mengejar hasil cepat, yang dikorbankan sering kali bukan cuma kenyamanan makan, tapi juga pemahaman soal kebutuhan tubuh sendiri. Di titik ini, pelangsing instan terlihat menarik karena sederhana, padahal penanganan obesitas tidak sesederhana klaim di iklan.

Obesitas bukan soal kurang disiplin semata

Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr Riyanny Meisha Tarliman, menegaskan bahwa obesitas tidak semata-mata muncul karena kurang disiplin menjaga pola makan dan aktivitas fisik. Ia menyebut obesitas sebagai penyakit kronis dengan banyak faktor yang saling terkait.

“Sains menunjukkan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk faktor biologis, genetik, lingkungan, dan lainnya, dan sering kali membutuhkan konsultasi dengan dokter,” kata Riyanny.

Pernyataan itu memberi konteks penting. Kalau obesitas dipahami sebagai kondisi yang kompleks, maka solusi yang ditawarkan juga harus kompleks dan terukur. Bukan cuma memangkas makan secara brutal, lalu berharap angka di timbangan turun secepat mungkin.

Riyanny menjelaskan bahwa penanganan obesitas dimulai dari perubahan gaya hidup. Jika memang diperlukan, terapi farmakologi bisa dipertimbangkan. Pada kondisi tertentu, operasi bariatrik juga dapat menjadi pilihan, dengan keputusan terapi yang melihat kondisi tubuh dan penyakit penyerta seperti diabetes serta gangguan kardiovaskular.

Dampaknya buat konsumen dan pasar kesehatan

Di sisi lain, maraknya promosi hasil cepat membuat produk penurun berat badan mudah masuk lewat kanal daring. Kepala BPOM Taruna Ikrar mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan promosi atau ulasan influencer sebagai satu-satunya dasar memilih produk kesehatan, terlebih masih ada klaim berlebihan atau overclaim.

“Saat ini masih terdapat klaim berlebihan atau overclaim,” kata Taruna Ikrar.

Bagi konsumen, pesan ini berarti satu hal yang sangat praktis: jangan menilai aman atau tidaknya produk hanya dari tampilan iklan, testimoni, atau konten singkat di media sosial. Dalam urusan berat badan, keputusan yang keliru bisa berujung pada pola makan yang tidak seimbang, penggunaan produk tanpa kepastian izin, dan penanganan yang terlambat saat obesitas memang butuh pendampingan medis.

Untuk industri kesehatan, minat yang besar terhadap penurunan berat badan jelas membuka pasar yang menggiurkan. Tapi pasar yang besar juga memancing produk yang belum tentu jelas asal-usulnya. Karena itu, pengawasan BPOM dan penjelasan dari tenaga medis jadi krusial supaya pertumbuhan permintaan tidak berubah menjadi ladang risiko bagi masyarakat.

Taruna menutup peringatan itu dengan nada yang tegas. Di tengah ramainya penawaran pelangsing instan, masyarakat diminta tetap kritis, sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar bentuk tubuh, melainkan keamanan penggunaan produk kesehatan yang dipilih.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 22 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir