Ia bahkan berkata akan lebih memilih pemilu ulang ketimbang memimpin pemerintahan “monstrous Reform-Conservative hybrid” jika parlemen gantung terjadi. Badenoch juga menolak skenario koalisi Labour-Liberal Democrat sebagai jalan keluar, dan menegaskan tidak akan ada deal sebelum maupun sesudah pemilu.
Polling terbaru masih belum menguntungkan Konservatif
Tekanan itu datang di saat yang belum nyaman bagi partainya. Menurut jajak pendapat Ipsos terbaru, 28% dari 1.033 orang dewasa di Britania yang disurvei antara 30 Juli dan 4 Agustus menyatakan mendukung Labour. Reform UK berada di posisi kedua dengan 25%, sementara Konservatif tertinggal di urutan ketiga dengan 18%.
Angka itu menjelaskan kenapa pernyataan Badenoch terasa lebih dari sekadar sindiran. Dengan Reform menguat di Wales dan berbagai wilayah Inggris sepanjang tahun lalu, setiap sinyal soal koalisi atau perpindahan kader ikut memengaruhi persepsi pemilih: apakah Konservatif masih punya identitas sendiri, atau justru terseret oleh partai yang dulu ditinggalkan para pembelot.
Badenoch sendiri menegaskan ingin menang “on my own terms” pada pemilu berikutnya. Ia juga berkata ingin menyatukan negara, bukan menyatukan sayap kanan. Untuk sementara, jalan yang ia pilih jelas: tidak ada koalisi Reform UK, tidak ada kesepakatan, dan tidak ada kursi kembali bagi mereka yang sudah pergi.
“There would be ‘no deals’ made before or after the election,” katanya, sambil menutup ruang tawar-menawar yang sejak lama jadi bahan spekulasi di politik Inggris.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.