Minggu, 23 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Dinkes Palembang Imbau Warga Pakai Masker, Kualitas Udara Tidak Sehat Akibat Kabut Asap

Kualitas udara tidak sehat Palembang akibat kabut asap
Dinkes Palembang meminta warga memakai masker saat kualitas udara tidak sehat akibat kabut asap kebakaran lahan. (Ilustrasi: AI)

PALEMBANG — Kualitas udara di Palembang berada pada level tidak sehat akibat kabut asap kebakaran lahan, dan Dinas Kesehatan Kota Palembang meminta warga memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Imbauan ini disampaikan pada Sabtu (22/8), ketika asap dari lahan terbakar di sejumlah wilayah Sumatera Selatan masih menekan kondisi udara di kota itu.

Kepala Dinkes Kota Palembang, Fenty Aprina, mengatakan situasi itu harus diwaspadai bersama. Ia menilai perlindungan diri perlu dilakukan sejak awal, terutama saat kabut asap muncul terus-menerus dan tidak menunjukkan perubahan berarti.

Kualitas udara tidak sehat Palembang jadi perhatian

Fenty menjelaskan, penggunaan masker disarankan untuk mengurangi paparan asap dari kebakaran lahan yang terjadi selama musim kemarau. Menurut dia, asap dari lahan gambut yang terbakar dapat memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut, atau ISPA, serta gangguan kesehatan lain.

“Asap yang ditimbulkan dari lahan gambut yang terbakar bisa menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan masalah gangguan kesehatan lainnya,” ujarnya.

Tak berhenti di masker. Dinkes Palembang juga mendorong warga menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS. Langkah yang ditekankan antara lain rajin mencuci tangan dengan sabun dan memperbanyak minum air putih, terutama bagi anak-anak.

Dampaknya langsung ke keluarga dan layanan kesehatan

Bagi warga, imbauan ini berarti rutinitas harian perlu disesuaikan. Aktivitas di luar rumah tetap bisa dilakukan, tetapi perlindungan diri jadi lebih penting, khususnya bagi anak-anak, dewasa, dan lansia yang lebih rentan terpapar asap.

Di lapangan, kondisi seperti ini biasanya membuat orang lebih cepat mengeluh batuk, sesak, tenggorokan perih, atau tidak nyaman saat beraktivitas, sehingga kepatuhan pada masker dan kebersihan diri menjadi langkah paling sederhana yang bisa segera dilakukan.

Fenty menambahkan, Dinkes Palembang mencatat 94.964 kasus ISPA selama Januari-Juli 2026. Meski angkanya besar, ia memastikan tidak ada pasien yang meninggal dunia akibat penyakit tersebut. “ISPA menjangkit masyarakat semua kelompok usia mulai dari anak-anak, dewasa hingga lansia sehingga harus diwaspadai bersama,” kata Fenty.

Data itu memperlihatkan tekanan kesehatan yang nyata di Palembang, apalagi saat kabut asap masih bertahan. Kondisi ini juga sejalan dengan peringatan dari pemerintah daerah lain yang menghadapi situasi serupa. Di Palangka Raya, Dinas Kesehatan setempat bahkan membagikan 2.500 masker gratis dan menaruh perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti anak-anak sekolah, ibu hamil, dan lanjut usia.

Respons daerah lain jadi pembanding

Langkah Palangka Raya menunjukkan pola respons yang mirip: masker, perlindungan kelompok rentan, dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan. Pembanding itu penting karena menegaskan bahwa kabut asap bukan sekadar gangguan pandangan, melainkan persoalan kesehatan publik yang mendorong daerah bergerak cepat sebelum keluhan warga meningkat lebih jauh.

Untuk Palembang, pesan Dinkes sekarang jelas. Warga diminta lebih disiplin memakai masker saat berada di luar ruang dan tidak menyepelekan gejala gangguan pernapasan. Jika kondisi kabut asap bertahan, perhatian berikutnya akan tertuju pada seberapa jauh langkah pencegahan ini bisa menahan lonjakan keluhan ISPA di hari-hari mendatang.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 23 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir