Soal drone, ancaman, dan nada yang makin keras
Ketegangan itu memuncak lagi pekan lalu, ketika kedutaan Rusia di Inggris menanggapi laporan soal pesawat nirawak buatan dua perusahaan Inggris yang disebut dipakai pasukan Ukraina. Kedutaan menilai hal itu mengonfirmasi bahwa London “deliberately opting for an escalation of the Ukraine crisis”.
Mereka juga menuduh Inggris berupaya menahan Rusia dan menimbulkan kerusakan lewat perantara. Dalam pernyataannya, kedutaan memperingatkan bahwa makin dalam keterlibatan Inggris, makin besar pula harga yang harus dibayar.
“London’s actions will inevitably carry consequences for which it will have to answer,” demikian pernyataan kedutaan Rusia.
Setelah peringatan itu, Andy Burnham membalas dengan nada keras pula. Ia mengatakan Inggris tidak akan gentar oleh ancaman Rusia dan akan terus mendukung Ukraina sepenuhnya.
“This is the UK doing what it has long said it would do, which is to support Ukraine 100 per cent against this illegal war led by Vladimir Putin,” kata Burnham. Ia menambahkan, “We are not fair-weather friends. We will be there in Ukraine’s hour of need, and that won’t change.”
Ketidakjelasan soal pengganti Kelin membuat satu pertanyaan masih menggantung di London: apakah Moskow akan segera mengisi posisi itu, atau membiarkannya kosong lebih lama sebagai sinyal politik. The Times melaporkan Rusia belum mengirim nama kandidat baru ke Foreign Office, sementara kedutaan di London masih dijalankan kuasa usaha.
Tahun lalu, Kelin sempat menolak tuduhan keterlibatan Rusia dalam keracunan Salisbury 2018 dan menyebut insiden itu “staged”. Pernyataan lama itu kembali memberi konteks betapa tegang dan rapuhnya relasi diplomatik kedua negara sekarang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.