Budi Arie Setiadi baru saja memantik api diskusi panas di lingkaran internal pendukung Presiden Joko Widodo. Di hadapan orang nomor satu di Indonesia tersebut, Ketua Umum Relawan Projo ini blak-blakan melempar wacana soal kemungkinan terjadinya “percepatan sejarah” politik tanah air yang bisa saja memotong alur waktu menuju Pemilu 2029.
Kabar ini mencuat setelah potongan video pidato Budi Arie diunggah oleh Guru Besar Hukum Tata Negara, Denny Indrayana, di akun Instagram pribadinya. Dalam rekaman tersebut, Budi tampak cukup emosional saat bicara soal insting politiknya di depan anggota Projo dan disaksikan langsung oleh Presiden Jokowi.
Mempertanyakan Skenario 2029
Suasana pertemuan yang semula formal mendadak intens ketika Budi Arie menyinggung soal jadwal pemilu. Ia mengaku sudah membisikkan kecurigaannya langsung kepada Jokowi. Budi merasa situasi di lapangan saat ini bergerak jauh lebih liar dibandingkan skenario politik konvensional yang sudah dirancang selama lima tahunan.
“Tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029? Apakah kita mau? Belum tentu kita mau, kita masih ngomong pemilu 2029-pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?” cetus Budi Arie di atas panggung. Pertanyaan retoris itu langsung dijawab gemuruh teriakan “siap” dari ratusan relawan yang hadir.
Bagi Budi, menjadi politisi atau relawan tidak bisa hanya berpangku tangan pada jadwal yang tertulis di kalender KPU. Ia meminta pasukannya untuk tidak terlena dengan kenyamanan skenario yang sudah ada. Baginya, politik bukan sekadar hitung-hitungan administratif, tapi soal membaca gelombang yang bisa berubah arah sewaktu-waktu.
Bayang-bayang Reformasi 1998
Untuk memperkuat argumennya, Budi Arie membawa memori kolektif bangsa kembali ke tahun 1998. Ia menarik garis lurus antara situasi sosial saat ini dengan masa transisi yang memaksa pemilu dipercepat dari jadwal seharusnya pasca-1997 menjadi tahun 1999.
Ia menyoroti munculnya riak-riak di daerah, seperti demonstrasi di Pati hingga aksi tandingan di Madura. Baginya, fenomena ini adalah tanda-tanda alam yang tidak bisa diabaikan. Ia bahkan secara gamblang menyebut situasi sekarang mengingatkannya pada era Pam Swakarsa di penghujung kekuasaan Orde Baru.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.