PK dan Lotta kemudian menikah di India. Keluarga PK menerima Lotta saat pasangan itu pergi ke desa mereka di Odisha, dan ayah PK melakukan upacara pernikahan untuk mereka. Setelah itu, Lotta harus kembali ke Swedia untuk melanjutkan studinya.
Jarak memisahkan mereka, tapi surat-menyurat tetap berjalan. PK menyelesaikan kuliah seninya dan makin ingin menyusul. Ia sempat menanyakan tiket pesawat ke Swedia, lalu mendapat jawaban bahwa biayanya sekitar 40.000 rupee, sekitar 18 kali pendapatan tahunan rata-rata di India saat itu menurut The Telegraph. Angka itu membuatnya menempuh jalan lain.
Jalan lain itu jauh lebih panjang. Ia membeli sepeda bekas seharga 60 rupee dan berangkat dari India pada Januari 1977. “I knew the sun rises in the east and sets in the west,” kata PK dalam dokumenter. Awalnya ia mengira tujuannya Swiss.
Seorang pelancong asal Belgia kemudian menunjukkan peta Eropa dan meluruskan bahwa Borås, kota tempat Lotta tinggal, ada di Swedia. Salah arah sedikit saja. Tapi perjalanan sudah terlanjur dimulai.
Di perbatasan India-Pakistan, PK mendapati dirinya tak memperoleh izin melintas melalui Pakistan. Di Amritsar, ia bertemu seseorang yang mengenalnya dari Delhi dan tersentuh oleh ceritanya. Orang itu membelikannya tiket pesawat ke Kabul, Afghanistan. Itu penerbangan pertama PK. Sepedanya dibawa ke Kabul oleh pasangan Jerman yang ia temui.
Perjalanan yang bergantung pada orang asing
Dari Kabul, PK kembali melanjutkan perjalanan dengan sepeda. Sepanjang jalan, ia berkali-kali bergantung pada kebaikan orang asing. Ada yang memberinya makanan dan tempat bermalam. Ada pula yang membayar jasanya menggambar potret. Kemampuannya melukis kembali menyelamatkannya, sama seperti saat ia masih berkeliling di Delhi.
Satu peristiwa di jalannya meninggalkan kesan kuat. Saat mengayuh sepeda keluar dari Kabul, PK menemukan mobil yang mengalami kecelakaan. Di dekat mobil itu, seorang perempuan muda asing terbaring terluka parah dan berlumuran darah. Ia telah kehilangan semua giginya. PK menghentikan langkah, menolongnya naik ke truk, lalu membawa sepedanya ke bak belakang kendaraan itu.
PK kemudian mengantar perempuan itu ke rumah sakit di Kabul dan menemaninya sampai ia keluar. Karena tak bisa berbicara, perempuan itu menuliskan namanya di selembar kertas: Leanna. Ia berasal dari Austria dan bekerja di sebuah galeri di Wina. PK membawanya ke kedutaan, dan pejabat di sana mengatur penerbangan untuknya.
Kisah PK kini tidak berhenti sebagai anekdot perjalanan cinta yang nyaris tak masuk akal. Dengan hadirnya dokumenter The Cycle of Love, cerita itu bergerak ke ruang yang lebih luas: tentang bagaimana keputusan spontan, uang yang tak cukup, dan keyakinan pada tujuan bisa mengubah hidup seseorang. Dan semuanya bermula dari sepeda bekas seharga 60 rupee.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.