Polisi membongkar fakta baru dalam hilangnya Mozza Axillia Gunarsa, remaja 18 tahun asal Bergas, yang ditemukan tinggal kerangka di jurang jalan tol wilayah Jangli, Kota Semarang. Teman dekat korban, MDVA yang berusia 22 tahun, kini disebut sebagai pelaku pembunuhan.
Kasus yang sempat mengendap lebih dari setahun itu mulai bergerak lagi setelah penyidik menemukan jejak percakapan di Instagram. Bagi keluarga korban, temuan ini membuka jalan baru. Bagi polisi, ini titik yang selama ini dicari.
Jejak digital dari ponsel orang tua
Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Bodia Teja Lelana mengatakan pengungkapan bermula dari alat bukti elektronik milik orang tua Mozza. Dari perangkat itu, penyidik menemukan chat Instagram yang mengarah pada orang terakhir yang berinteraksi dengan korban.
“Alat bukti yang kuat itu beberapa minggu yang lalu dari perangkat elektronik orang tuanya sendiri, chat Instagram,” kata Bodia, dikutip Jumat, 4 September 2026.
Percakapan itu kemudian ditelusuri. Polisi mendapati ada komunikasi antara korban dan seorang terduga yang diduga kuat menjadi orang terakhir yang berhubungan dengan Mozza sebelum ia hilang. Dari sana, penyidik bergerak ke sebuah rumah kos di Kota Semarang.
Langkah itu mengerucut pada MDVA. Ia disebut sebagai teman dekat korban. Polisi juga menyebut pekerjaan pelaku masih serabutan dan ia merupakan warga Blora.
Pengembangan kasus masih berjalan
Bodia belum merinci seluruh rangkaian peristiwa yang menjerat MDVA. Namun, ia menegaskan bahwa profil pelaku terus didalami setelah jejak digital dan penelusuran lapangan saling menguatkan. Polisi kini memegang arah baru dalam kasus yang lama membuat tanda tanya.
Nama Mozza sendiri sebelumnya muncul dalam pencarian orang hilang yang berujung temuan jasad tak utuh di area jurang tol Jangli. Kini, setelah penyidik memeriksa komunikasi di Instagram, posisi kasus berubah. Bukan lagi sekadar pencarian. Ada dugaan pembunuhan yang mengarah ke orang dekat korban.
Teman dekat jadi kunci
Pernyataan polisi soal status MDVA sebagai teman dekat memberi warna lain dalam penyidikan. Hubungan personal itu membuat perkara ini tidak berhenti pada pencarian korban semata, melainkan menjalar ke dugaan motif dan relasi terakhir sebelum hilang.
“Jadi statusnya teman dekat ya. Saya bisa menyebutkannya teman dekat,” ujar Bodia.
Penyidik Polres Semarang masih mengembangkan profil pelaku dan menelusuri rangkaian komunikasi yang tersimpan di perangkat elektronik keluarga korban. Dari satu chat lama, kasus yang sempat sepi ini kembali terbuka. Dan bagi keluarga Mozza, arah penyidikan yang baru itu jauh lebih berat daripada sekadar jawaban tentang keberadaan anak mereka.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.