Kamis, 10 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Cara Kerja Teknologi OMC untuk Atasi Kebakaran Hutan: Satelit hingga Tabur Garam

Cara Kerja Teknologi OMC untuk Atasi Kebakaran Hutan
Cara Kerja Teknologi OMC untuk Atasi Kebakaran Hutan

JAKARTA — Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dijalankan Indonesia untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar tebaran garam ke awan. Di baliknya terdapat koordinasi satelit, radar cuaca, analisis meteorologi, dan persiapan rinci yang menentukan berhasil tidaknya menciptakan hujan buatan.

Pada 25 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan dua sorti OMC di Kalimantan Barat. Pesawat menyebarkan dua ribu kilogram natrium klorida (NaCl) atau garam ke awan di wilayah Bengkayang, Landak, dan Sanggau. Operasi seperti ini dilakukan rutin selama musim karhutla untuk membantu memadamkan api dan mengurangi kabut asap.

“Potensi pertumbuhan awan yang teridentifikasi memberikan peluang hujan dalam penanganan karhutla,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan. Namun yang sering dimisinterpretasi adalah bahwa teknologi ini menciptakan hujan dari langit cerah.

Bukan Hujan Buatan, Tapi Optimasi Awan

Menurut jurnal publikasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berjudul “Paradigma Baru Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Karhutla”, OMC tidak menciptakan hujan dari nol. Teknologi ini memanfaatkan awan yang sudah memiliki potensi menghasilkan hujan, kemudian melakukan penyemaian untuk mengoptimalkan proses pembentukan hujan di dalam awan tersebut.

“Banyak negara di dunia melaksanakan program modifikasi cuaca untuk berbagai tujuan. Secara umum, teknologi modifikasi cuaca dilaksanakan untuk tujuan penambahan curah hujan guna mengatasi permasalahan krisis sumber daya air,” tertulis dalam jurnal BRIN yang dikutip pada Selasa (8/9).

Operasi OMC memerlukan tiga komponen utama: awan potensial, bahan semai, dan pesawat. Awan menjadi faktor paling kritis karena tanpa media awan yang sesuai, bahan semai tidak akan bekerja.

Garam sebagai Pemicu, Bukan Pembuat Hujan

Bahan yang disebar ke awan—dalam kasus Indonesia adalah garam atau NaCl—bukan pembuat hujan. Garam berperan sebagai partikel higroskopis berukuran tertentu yang memengaruhi proses mikrofisika awan. Fungsinya meningkatkan efisiensi proses tumbukan dan penggabungan butir air dalam awan hangat, yang merupakan bagian penting dari proses hujan di wilayah tropis.

Pesawat membawa bahan semai menuju awan yang telah ditentukan sebelumnya. Namun sebelum penerbangan berangkat, kondisi atmosfer dan perkembangan awan harus dipantau dengan cermat. Langkah ini menentukan apakah operasi akan dilaksanakan atau ditunda.

Satelit Himawari 8 Deteksi Awan Potensial

Untuk mengidentifikasi awan yang tepat, teknologi satelit menjadi alat bantu penting. Penelitian BRIN dan BMKG mengenai satelit Himawari 8 menunjukkan bahwa skema daytime microphysics RGB dapat membantu mendeteksi kemunculan awan cumulus potensial.

Metode satelit ini mampu mendeteksi awal kemunculan awan potensial sekitar satu hingga dua jam sebelum pesawat penyemaian cuaca mencapai lokasi. Data satelit tersebut melengkapi informasi dari radar cuaca dalam menentukan lokasi penyemaian yang paling efektif.

“Operasi hujan buatan bukan hanya soal pesawat dan bahan semai. Di belakangnya terdapat analisis meteorologi, pemantauan radar, satelit, arah angin dan perkembangan awan,” jelas BRIN dalam publikasinya.

Faktor Cuaca & Analisis Menentukan Kesuksesan

Tidak semua operasi OMC berhasil menghasilkan hujan. Kondisi atmosfer menjadi penentu utama. Angin yang kuat dan tidak adanya awan potensial adalah kendala utama pelaksanaan modifikasi cuaca. Penentuan waktu, lokasi, jenis awan, dan jumlah bahan semai juga sangat penting.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyatakan bahwa penerbangan OMC ditentukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer, pertumbuhan awan potensial, arah dan kecepatan angin, persebaran titik panas, serta kebutuhan pembasahan wilayah rawan karhutla.

Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH Dasrul Chaniago menjelaskan pentingnya pendekatan terukur: “Penyemaian awan diarahkan secara terukur ke wilayah yang memberikan dampak optimal terhadap penanggulangan kebakaran.”

OMC Hanyalah Bagian dari Strategi Komprehensif

Meski teknologi ini penting, OMC bukan upaya yang berdiri sendiri. Operasi pengendalian kebakaran harus mengintegrasikan beberapa elemen sekaligus. “Pelaksanaannya harus berjalan bersama dengan patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman darat, pembasahan gambut, pengelolaan tata air, pelibatan masyarakat, pengawasan badan usaha, dan penegakan hukum,” ujar Dasrul.

Strategi yang sama juga diterapkan Malaysia. Pada 24 Agustus 2026, Indonesia memberikan izin resmi kepada lembaga Malaysia untuk memasuki wilayah udara Indonesia guna melakukan operasi cloud seeding di Sarawak. Kerja sama ini penting karena jerebu dari kebakaran di Borneo berdampak langsung ke wilayah Sarawak.

Pada Jumat (4/9), National Disaster Management Agency (NADMA) Malaysia melaporkan indeks pencemaran udara di Serian, Sarawak mencapai 510 pada pukul 09.00 waktu setempat—masuk kategori sangat berbahaya dan melampaui ambang 500 yang menjadi level darurat.

Seketika itu juga Malaysia menetapkan keadaan darurat di distrik Serian setelah indeks polusi mencapai 519. Upaya modifikasi cuaca lintas batas menjadi langkah strategis untuk mengatasi krisis kabut asap regional yang semakin gawat.

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 10 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online