Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dan nota keuangan di hadapan Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR-DPD, Jumat ini. Momen itu datang saat kepuasan publik terhadap pemerintahannya turun tajam, dan angka elektabilitasnya ikut merosot.
Penurunan itu bukan kecil. Survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) mencatat tingkat kepuasan terhadap rezim Prabowo yang pada akhir 2025 masih berada di atas 80 persen, lalu jatuh ke 51 persen pada Juli 2026. Dalam simulasi yang sama, elektabilitas Prabowo turun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 14,5 persen pada Juli 2026. Posisi itu bahkan berada di bawah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam simulasi semi terbuka.
Pidato yang bobot politiknya lebih berat
Karena situasi itu, pidato kenegaraan Prabowo kali ini dinilai punya taruhannya lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Para pengamat menilai publik tidak lagi sekadar mendengar daftar capaian, melainkan juga menunggu jawaban atas penurunan dukungan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Ruang sidang di Senayan pun menjadi panggung yang penuh perhatian. Bukan cuma soal isi pidato, tapi juga soal arah politik setelah angka-angka survei bergerak ke bawah.
Dari penelusuran BBC News Indonesia, pengamat memperkirakan Prabowo tetap akan menonjolkan kinerja ekonomi serta program-program unggulan pemerintah. Dua program yang diperkirakan masuk sorotan adalah Makan Bergizi Gratis atau MBG dan Koperasi Desa Merah Putih atau Kopdes. Ini sejalan dengan pidato kenegaraan sebelumnya, saat Prabowo juga menegaskan komitmennya melanjutkan MBG dan menyebut perlunya perbaikan serta efisiensi.
Publik menunggu jawaban, bukan hanya capaian
Namun, nada yang menunggu dari publik tidak lagi sama. Dalam bahan yang dirujuk BBC, para pakar politik menilai perhatian masyarakat tidak akan tertuju hanya pada keberhasilan yang dipaparkan pemerintah. Beban utamanya justru ada pada bagaimana Prabowo menjawab penurunan kepuasan publik yang sudah terlihat jelas dalam survei terakhir SMRC.
Prabowo sendiri sebelumnya, saat pidato kenegaraan tahunan dan pembacaan nota keuangan RAPBN di Sidang DPR/MPR di Jakarta, berada di hadapan forum yang juga dihadiri pejabat tinggi negara serta mantan presiden dan wakil presiden, termasuk Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Pada kesempatan itu, ia menegaskan tekad melanjutkan MBG untuk mengatasi stunting dan gizi buruk, sambil mendorong perbaikan pelaksanaannya. Kalimat itu kini kembali relevan, karena publik menilai hasil di lapangan tak bisa lagi dipisahkan dari janji di podium.
Angka survei yang terus turun
SMRC mencatat perubahan yang tajam dalam kurun beberapa bulan. Dari tingkat kepuasan yang masih sangat tinggi pada akhir 2025, dukungan publik terhadap pemerintah turun ke 51 persen pada Juli 2026. Elektabilitas Prabowo ikut tertekan, merosot ke 14,5 persen dari 34,9 persen pada November 2025. Angka itu memberi gambaran kenapa pidato hari ini dipantau bukan sebagai seremoni tahunan biasa, melainkan sebagai ujian politik yang nyata.
Di saat seperti ini, setiap kalimat di podium punya beban sendiri. Dan bagi Prabowo, sorotan hari ini bukan sekadar pada apa yang ia klaim berhasil, melainkan pada apakah ia bisa memulihkan kepercayaan yang sudah keburu terkikis. Survei SMRC sudah memberi sinyal keras: dari lebih 80 persen di akhir 2025, tingkat kepuasan itu kini tinggal 51 persen.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.