Ancaman utama dari Anak Krakatau bukan letusan per se, melainkan longsoran tubuh gunung ke laut yang berpotensi memicu tsunami. Peristiwa serupa terjadi pada 2018, ketika Anak Krakatau mengalami amblesan besar yang memicu gelombang Selat Sunda dan menewaskan ribuan orang.
“Setiap gunung punya sistem magmatik sendiri. Jadi kita tidak bisa mengatakan karena Anak Krakatau aktif, kemudian Semeru ikut aktif atau sebaliknya,” tegas Luthfian.
Miskonsepsi tentang Hubungan Aktivitas Gunung Api
Masyarakat sering mengaitkan aktivitas beberapa gunung api sebagai bukti koneksi seismik atau magmatik yang mendalam. Asumsi ini tidak selalu akurat dan bisa menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.
Menurut Luthfian, untuk membuktikan ada tidaknya hubungan antar-gunung, diperlukan analisis mendalam terhadap data geofisika dan kondisi sistem bawah permukaan masing-masing vulkan. Dekat atau tidaknya waktu erupsi saja bukan bukti cukup.
“Tidak bisa hanya melihat waktunya berdekatan, kemudian menyimpulkan bahwa satu gunung memicu gunung yang lain. Harus dilihat data dan kondisi masing-masing gunung,” penegasnya.
Informasi yang akurat dan verifikatif dari ahli vulkanologi resmi menjadi satu-satunya cara untuk memahami dinamika gunung api Indonesia. Publik disarankan mengikuti update resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) daripada berpatokan pada analisis amatir di media sosial.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.