Tewasnya Serda Ahmad Muzammil Farisa (AMF) di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, menyisakan luka mendalam sekaligus alarm keras bagi institusi militer Indonesia. Prajurit muda itu mengembuskan napas terakhir pada Kamis, 10 September 2026, setelah diduga menjadi korban kekerasan brutal yang dilakukan oleh empat rekan sejawatnya sendiri di lingkungan TNI Angkatan Udara.
Kematian tragis Serda AMF langsung menarik perhatian tajam dari Senayan. Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, angkat bicara dengan nada keras. Ia mendesak para petinggi militer untuk segera memutus rantai kekerasan yang selama ini kerap berlindung di balik kedok senioritas.
Bagi Hasanuddin, tidak ada ruang bagi tindakan represif yang berujung maut di dalam organisasi yang seharusnya menjunjung tinggi kehormatan dan disiplin.
Budaya Senioritas yang Mematikan
Bagi politisi PDI Perjuangan ini, tradisi buruk yang membiarkan senior atau atasan bertindak semena-mena kepada bawahan wajib dikubur dalam-dalam. Ia menegaskan bahwa praktik kekerasan di lingkungan militer sama sekali tidak mencerminkan jiwa prajurit sejati. Sebaliknya, hal itu justru menunjukkan keroposnya pengawasan di tingkat unit terkecil.
“Tradisi buruk berupa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh senior, komandan, atasan maupun senior atasan di lingkungan TNI harus segera dihilangkan,” tegas Hasanuddin dalam keterangan resminya, Sabtu, 12 September 2026. Ia tidak ingin tragedi yang menimpa Serda AMF dianggap sebagai kecelakaan biasa. Menurutnya, ini adalah sinyal bahaya akan adanya pola pembinaan yang keliru.
Prajurit memang dilatih untuk bertempur. Mereka ditempa untuk menghadapi situasi ekstrem di medan tugas yang berbahaya. Namun, Hasanuddin mengingatkan bahwa persiapan fisik yang berat harus dibarengi dengan fondasi moral yang kokoh.
Kohesivitas atau rasa kesetiakawanan di antara sesama prajurit adalah kunci utama keberhasilan sebuah misi. Tanpa itu, sebuah unit hanyalah sekumpulan orang yang rentan berkonflik.
“Yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menjalankan komando dan perintah, tetapi juga kerja sama yang baik antarprajurit,” tambah dia. Suasana mencekam yang dipicu oleh tekanan berlebih dari senior hanya akan menciptakan ketegangan laten. Jika terus dibiarkan, bom waktu ini akan meledak dalam bentuk tindakan penganiayaan yang fatal, persis seperti yang dialami Serda AMF di mess militer tersebut.
Transparansi Penyelidikan Pomau
Saat ini, mata publik tertuju pada Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau). Mereka tengah bekerja keras menyusun kepingan fakta dari insiden berdarah di Halim Perdanakusuma tersebut. Lewat akun Instagram resminya @militer.udara pada Jumat, 11 September 2026, pihak TNI AU telah menyatakan komitmen penuh untuk mengusut kasus ini secara menyeluruh tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Penyelidikan tidak hanya menyasar para pelaku yang diduga menganiaya Serda AMF. Banyak pihak berharap agar Pomau juga menelusuri bagaimana mekanisme pengawasan di mess tersebut bisa sampai bobol. Bagaimana mungkin kekerasan terjadi di dalam asrama yang seharusnya menjadi tempat istirahat yang aman bagi para abdi negara?
Kasus ini menjadi ujian bagi transparansi TNI. Harapan masyarakat sederhana; penegakan hukum yang adil dan terbuka. Keluarga korban tentu menuntut jawaban logis atas alasan mengapa nyawa seorang prajurit muda bisa melayang di tangan rekan sendiri hanya karena urusan hierarki yang melenceng.
Kepergian Serda AMF bukan sekadar angka dalam statistik kriminal militer. Ia adalah pengingat bahwa di balik seragam loreng yang gagah, terdapat budaya internal yang membutuhkan reformasi radikal.
Jika budaya senioritas tidak segera dikendalikan, bukan tidak mungkin tragedi serupa akan kembali terulang di unit-unit lainnya. Langkah selanjutnya kini ada di tangan pimpinan TNI dan Pomau untuk membuktikan bahwa keadilan benar-benar berlaku bagi siapa saja, termasuk di dalam barak mereka sendiri.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.