Aktivitas ekonomi dan mobilitas warga Depok sering kali lumpuh saat titik-titik genangan muncul. Jalanan macet total, akses sekolah terputus, dan kerugian material di tingkat rumah tangga tidak terelakkan. Hadirnya kolam retensi ini setidaknya memberikan napas lebih panjang bagi warga untuk melakukan langkah mitigasi mandiri sebelum air naik lebih tinggi.
Pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus memantau kondisi sembilan kolam tersebut. Perawatan rutin dilakukan, termasuk pembersihan vegetasi liar dan pengangkatan sampah yang terbawa arus agar kapasitas tampung tetap maksimal saat dibutuhkan. Keandalan sistem ini benar-benar diuji saat intensitas curah hujan mencapai titik ekstrem.
Imbauan keras pun tak henti digaungkan pemerintah. Sampah yang dibuang sembarangan ke selokan adalah musuh utama dari sistem ini. Satu puntung rokok mungkin terlihat sepele, tapi ribuan sampah plastik yang menyumbat gorong-gorong akan membuat fungsi kolam retensi menjadi tidak maksimal.
Kini, tantangan sesungguhnya bagi warga Depok adalah menjaga fasilitas yang sudah dibangun tersebut agar tetap berfungsi optimal. Kolam retensi bukan sekadar cekungan tanah, melainkan investasi perlindungan bagi lingkungan mereka sendiri.
Ke depannya, penambahan kapasitas tampung atau pembangunan kolam-kolam baru di titik rawan lainnya masih terus dikaji oleh pemerintah daerah seiring dengan perkembangan tata kota yang makin padat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.