PALANGKA RAYA — Asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan menutup Bandara Tjilik Riwut pada Kamis (24/9/2026), memaksa pihak bandara menghentikan semua operasional penerbangan. Jarak pandang yang menurun drastis membuat pesawat tidak bisa mendarat maupun lepas landas dengan aman.
Tiga maskapai berbeda mengambil keputusan untuk stop penerbangan dengan waktu yang berbeda-beda. Garuda Indonesia dan Citilink mempertahankan penutupan hingga Sabtu (26/9), sementara Lion Group membatasi penghentian hanya hingga Kamis itu sendiri. Semua keputusan ini akan bergerak mengikuti perkembangan kondisi pandangan di bandara.
Ribuan penumpang terdampak akibat gangguan ini. Pemerintah Kota Palangka Raya segera menyiapkan alternatif transportasi darat untuk membawa calon penerbang ke Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sejauh ratusan kilometer, agar perjalanan mereka tetap bisa dilanjutkan.
Kebakaran Meluas di Seluruh Pulau Kalimantan
Penutupan bandara Palangka Raya adalah simbol dari krisis yang lebih besar. Kebakaran hutan dan lahan sedang merajalela di berbagai daerah Sumatera dan Kalimantan. Hingga Rabu (23/9), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan masih ada 209,78 hektare lahan dalam proses pemadaman aktif.
Di Kalimantan Timur saja, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah mencatat luasan kebakaran sepanjang September 2026 mencapai 2.505 hektare dalam waktu 21 hari pertama bulan itu. Kabupaten Paser mencatat kejadian terbanyak dengan 371 titik kebakaran, sementara Kabupaten Kutai Kartanegara mengalami kerusakan lahan paling luas yakni sekitar 2.026 hektare.
Fenomena ini menunjukkan fase kritis kebakaran musiman. Sejak Januari hingga 21 September 2026, Kalimantan Timur sudah mencatat 1.470 kejadian kebakaran dengan total 6.333 hektare lahan yang hangus. Angka ini meningkat signifikan dari periode Januari hingga Agustus, yang hanya mencapai 3.828 hektare. Artinya, hanya dalam bulan September saja, kerusakan lahan bertambah sebesar 2.505 hektare.
Asap Merugikan Ribuan Penumpang dan Ekonomi Aviasi
Dampak gangguan penerbangan ini langsung dirasakan ribuan calon penumpang yang terpaksa membatalkan atau menunda perjalanan mereka. Bagi yang tetap ingin melanjutkan, mereka harus menempuh rute darat yang jauh lebih lama — dari Palangka Raya ke Banjarmasin membutuhkan waktu tempuh berkisar 13-15 jam perjalanan darat, sementara rute udara hanya membutuhkan waktu terbang kurang dari 2 jam.
Maskapai juga menanggung kerugian operasional karena pembatalan terbang. Ketidakpastian jadwal — keputusan yang bisa berubah setiap hari sesuai kondisi asap — membuat pelanggan ragu untuk memesan tiket, sementara maskapai sudah mengalokasikan biaya operasional pesawat, kru, dan fasilitas bandara.
Sektor pariwisata Kalimantan Tengah juga terdampak. Bandara Tjilik Riwut adalah gerbang utama turis domestik dan internasional menuju daya tarik wisata alam daerah. Dengan penerbangan terganggu, kedatangan wisatawan berkurang, membuat bisnis hotel, tour operator, dan restoran lokal sepi pengunjung.
Upaya Pemadaman dan Modifikasi Cuaca
Pemerintah pusat, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, telah mengaktifkan respons darurat. Presiden meminta laporan real-time dari BNPB mengenai perkembangan karhutla di Kalimantan dan Sumatera melalui rapat terbatas yang digelar pada Rabu (23/9). Kepala BNPB Suharyanto melaporkan bahwa tim pemadaman terus bekerja setiap hari dengan intensitas tinggi.
Selain pemadaman ground, pemerintah juga mengintensifkan operasi modifikasi cuaca — penyemaian awan untuk memicu hujan — secara masif dengan rencana melanjutkan hingga musim hujan normal kembali. Strategi ini bertujuan mengurangi kekeringan lahan dan menghambat penyebaran api.
Namun tantangan tetap besar. Data BPBD Kalimantan Timur menunjukkan bahwa mayoritas kebakaran (sekitar 4.500 dari 6.333 hektare) terjadi di luar kawasan hutan resmi, melainkan di lahan perkebunan, pertanian, dan area pinggiran permukiman. Karakteristik ini membuat pemadaman lebih sulit karena api menyebar cepat di lahan yang kering dan bersinggungan langsung dengan permukiman warga.
Riwayat Musim Kebakaran Tahun Ini
Bulan Agustus sudah menunjukkan eskalasi awal dengan luasan lahan terbakar mencapai 3.300 hektare. Peningkatan ini mengingatkan pada pola musiman kebakaran yang terjadi setiap tahun di kawasan Nusantara Timur — periode kering antara Agustus hingga Oktober ketika curah hujan minimal.
Kali terakhir Kalimantan mengalami krisis asap sepapar ini, ribuan penerbangan dibatalkan, sekolah tutup karena kualitas udara berbahaya, dan ribuan warga terganggu kesehatan karena menghirup udara beracun.
Tahun ini, dengan teknologi pemantauan yang lebih baik dan respons awal lebih cepat, pemerintah berharap bisa mengurangi dampak — tapi bukti dari angka kebakaran menunjukkan upaya masih tertinggal dari kecepatan penyebaran api.
Situasi di Palangka Raya akan terus dipantau. Penumpang yang tertunda diminta untuk memeriksa status penerbangan mereka secara rutin karena jadwal bisa berubah sejalan dengan perubahan visibilitas cuaca di bandara dalam beberapa hari ke depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.