Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mempercepat sosialisasi desain kepada warga, sekaligus mempertimbangkan dinamika pembangunan yang sudah berlangsung di lapangan. Koordinasi antara pemerintah dan masyarakat adat akan menentukan hasil akhir pemulihan Kampung Sade.
Tradisi Tetap Jadi Fondasi
Apa pun desain yang nantinya disepakati, warga Sade telah membuktikan bahwa mereka tidak ingin mengorbankan identitas adat mereka demi kecepatan. Setiap detail pembangunan — dari ukuran tiang, tinggi atap, hingga penempatan pintu — tetap merujuk pada pengetahuan tradisional yang telah terbukti bertahan di iklim tropis Lombok selama puluhan generasi.
Arsitek adat Kampung Sade memahami ventilasi udara yang cukup, permeabilitas air hujan, dan ketahanan terhadap gempa bumi — pengetahuan yang terakumulasi dari pengalaman hidup berabad-abad. Kebakaran yang baru terjadi tidak mengubah keyakinan warga bahwa cara tradisional tetap relevan dan efektif.
Proses pembangunan kembali rumah adat di Kampung Sade, dengan demikian, bukan hanya tentang memulihkan struktur fisik.
Ini adalah upaya komunitas untuk menegaskan kembali identitas mereka, memperkuat ikatan sosial melalui gotong royong, dan membuktikan bahwa tradisi tetap hidup dan relevan dalam menghadapi tantangan modern. Warga Sade memilih jalur mereka sendiri — cepat, mandiri, dan setia pada warisan leluhur.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.