JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Pemerintah Indonesia memperkuat komitmennya terhadap kendaraan listrik (EV) dan energi terbarukan pada tahun 2026 dengan sejumlah insentif pajak baru, dukungan infrastruktur, serta inovasi teknologi. Langkah ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi impor BBM, dan mencapai kedaulatan energi.
Insentif pajak kendaraan listrik tetap nol persen hingga akhir tahun, didukung kebijakan pemerintah pusat. Selain itu, subsidi pembelian ratusan ribu unit motor dan mobil listrik mulai digulirkan per Juni 2026, ditargetkan untuk mendorong adopsi massal di tengah tren investasi bersih global yang melonjak.
Insentif Pajak Kendaraan Listrik Tetap Nol Persen
Meskipun sempat ada wacana perubahan melalui Permendagri No. 11/2026 yang mengatur dasar pengenaan PKB dan BBNKB, kendaraan listrik dipastikan tetap menikmati pembebasan pajak penuh. Kementerian Dalam Negeri, melalui Surat Edaran (SE) Mendagri No. 900.1.13.1/3764/SJ tertanggal 22 April 2026, secara tegas menginstruksikan seluruh gubernur untuk melanjutkan pembebasan penuh PKB dan BBNKB untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).
Instruksi ini melanjutkan semangat Peraturan Presiden (Perpres) 79/2023 yang merupakan perubahan dari Perpres 55/2019 tentang Percepatan Program KBLBB. Dengan demikian, hingga 28 September 2026, pajak EV di seluruh Indonesia tetap nol persen, termasuk di DKI Jakarta yang sebelumnya sempat merancang skema pajak berlapis. Asosiasi Ekosistem Mobilitas Listrik (AEML) menyambut positif kebijakan ini sebagai sinyal kuat konsistensi pemerintah.
Subsidi Ratusan Ribu Unit Motor dan Mobil Listrik
Kementerian Keuangan, melalui Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, mengumumkan program insentif baru untuk 200.000 unit kendaraan listrik yang mulai berlaku Juni 2026. Program ini meliputi subsidi Rp5 juta per unit untuk 100.000 unit motor listrik. Sementara itu, 100.000 unit mobil listrik akan mendapatkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dengan variasi 100% atau 40% tergantung Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan jenis baterai.
Tujuan utama dari insentif ini adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan II, III, dan IV tahun 2026, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa meskipun insentif untuk kendaraan listrik CBU (Completely Built Up) tidak diperpanjang, pembiayaan EV oleh multifinance tetap menunjukkan pertumbuhan positif, mencapai Rp21,31 triliun per November 2025.
SPKLU Swasta Meledak Didukung Kemudahan
Asosiasi Pengusaha Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum Indonesia (ASPELUSI) menyatakan bahwa kendala utama pengembangan SPKLU swasta, yaitu utilisasi yang rendah, kini mulai teratasi. Dengan adanya pembebasan pajak kendaraan listrik dan relaksasi kebijakan ganjil genap bagi EV, daya tarik kepemilikan EV meningkat signifikan, terutama di kota-kota besar dengan mobilitas tinggi.
DKI Jakarta terus memberikan keuntungan bagi pemilik mobil listrik dengan pajak nol persen, BBNKB nol persen, serta bebas dari aturan ganjil genap. Kebijakan ini memberikan kepastian bagi investor swasta untuk membangun infrastruktur pengisian daya, yang pada gilirannya akan memperkuat ekosistem EV secara keseluruhan.
Teknologi V2G, V2H, dan Uji Tambang Hemat Energi 78%
Inovasi teknologi dalam ekosistem EV juga terus berkembang. Konsep Vehicle-to-Grid (V2G) dan Vehicle-to-Home (V2H) memungkinkan mobil listrik berfungsi sebagai ‘power bank raksasa’ yang dapat mengalirkan kembali daya ke rumah atau jaringan listrik saat dibutuhkan. Ini berpotensi menjadi penyangga stabilitas energi nasional, terutama saat beban puncak atau dalam kondisi darurat.
Dalam uji coba yang dilakukan oleh KALISTA dan Kideco di tambang Paser, Kalimantan Timur, pada 13 Agustus hingga 20 September 2026, kendaraan listrik jenis light vehicle Double Cabin (88,02 kWh) dan MPV (64,7 kWh) menunjukkan hasil yang signifikan. Penggunaan EV ini berhasil menghemat biaya energi hingga 78% dan memangkas emisi sebesar 65% dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar BBM. Hasil ini membuka peluang elektrifikasi untuk sekitar 1.200 unit armada tambang di masa depan.
Pilihan Mobil Listrik Terpopuler 2026 dan Tren Global
Pasar mobil listrik di Indonesia semakin beragam dengan berbagai pilihan yang disesuaikan kebutuhan dan anggaran. Model terlaris meliputi:
| Kategori | Model Populer | Kisaran Harga (Juta Rupiah) |
|---|---|---|
| City Car | Wuling Air EV, Wuling BinguoEV, Cloud EV | 184-443 |
| Menengah Logis | BYD Dolphin, MG 4 EV, MG ZS EV, GAC Aion Y Plus, BYD M6, BYD Atto 3 | 383-479 |
| SUV Futuristik | Hyundai IONIQ 5, KONA Electric, Chery OMODA E5, KIA EV9 | 516-1.980 |
| Premium Sporty | BYD Seal, KIA EV6, Tesla Model Y | 1.200+ |
Sebanyak 16 model kendaraan listrik juga diwajibkan untuk diproduksi secara CKD (Completely Knock Down) di Indonesia pada tahun 2026, termasuk Citroen E-C3, Aion Y Plus, BYD Dolphin, dan Tesla Model Y. Pasar global juga menunjukkan tren yang sama. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan penjualan EV global akan mencapai sekitar 23 juta unit pada tahun 2026, atau hampir 30% dari seluruh penjualan kendaraan baru.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.