JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Nilai tukar rupiah pada Jumat (2/10/2026) pagi berhasil menguat tipis setelah sempat tertekan di atas level Rp18.000 selama sepekan. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09:05 – 09:38 WIB, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.942 – Rp17.955 per dolar AS, menunjukkan penguatan 11-22 poin atau 0,06% – 0,12% dari penutupan Kamis (1/10/2026) di level Rp17.966.
Penguatan ini menempatkan rupiah sekitar 53-58 poin di bawah level psikologis Rp18.000. Posisi terkuat rupiah tercatat di Rp17.942 per dolar AS pada pukul 09:24 WIB, sementara nilai umum yang sering dikutip berkisar Rp17.945 per dolar AS.
Faktor Pendukung dan Tekanan Global
Beberapa faktor domestik dan global berperan dalam pergerakan rupiah pagi ini. Dari dalam negeri, surplus neraca perdagangan Agustus 2026 yang di atas perkiraan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor yang masih kuat. Selain itu, inflasi September yang di bawah ekspektasi turut menjaga daya beli masyarakat.
Dolar AS juga sedikit terkoreksi karena imbal hasil US Treasury turun cukup besar semalam, memberikan nafas bagi mata uang negara berkembang (EM). Namun, menurut analis Doo Financial Futures Lukman Leong, faktor-faktor ini belum cukup kuat menahan tekanan global yang lebih besar.
Faktor penekan global yang masih membayangi rupiah meliputi penguatan Dolar AS, dengan Indeks Dolar AS (DXY) di level 102,10 – 102,11. DXY sempat menyentuh level tertinggi 17 bulan terhadap euro dan telah naik enam kuartal berturut-turut, dengan kenaikan 3,84% sepanjang tahun ini. Ini merupakan periode penguatan terpanjang sejak tahun 2022.
Yield Treasury AS yang masih tinggi di atas 5,27% juga memicu aksi jual obligasi global, membuat aset dolar AS lebih menarik dan mendorong dana keluar dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama pengerahan kapal induk ketiga AS dan sinyal serangan udara terhadap Iran, turut menekan rupiah karena Indonesia merupakan net importir minyak. Data ekonomi AS yang masih kuat, seperti ISM Manufaktur September di 54,5 dan klaim pengangguran awal 197.000, juga mendukung penguatan dolar AS.
Pergerakan Mata Uang Asia dan Kurs Bank Besar
Pergerakan mata uang di Asia pagi ini bervariasi. Rupiah menguat 0,11%, Peso Filipina 0,19-0,22%, Yuan China 0,02%, Yen Jepang 0,02-0,06%, dan Baht Thailand 0,04%. Sementara itu, Ringgit Malaysia melemah 0,03-0,04%, Dolar Singapura 0,01-0,05%, Won Korea 0,06-0,16%, dan Rupee India 0,5%. Mata uang maju seperti Euro, Poundsterling, dan Dolar Australia juga terpantau melemah terhadap dolar AS.
Berikut kurs di beberapa bank besar pada 2 Oktober 2026 pukul 09:07 WIB:
| Bank | Jenis Kurs | Beli | Jual |
|---|---|---|---|
| BCA (BBCA) | e-rate | Rp17.920 | Rp17.940 |
| TT Counter | Rp17.755 | Rp18.035 | |
| Bank Notes | Rp17.755 | Rp18.035 | |
| Mandiri (BMRI) | Special rate | Rp17.880 | Rp17.910 |
| TT Counter | Rp17.690 | Rp17.990 | |
| Bank Notes | Rp17.670 | Rp17.970 |
Kurs tengah Bank Indonesia (BI) sebagai acuan hari ini adalah Rp17.958 (jual), Rp17.780 (beli), dan Rp17.869 (tengah).
Dampak dan Proyeksi
Penguatan tipis rupiah ini masih belum cukup untuk mengurangi beban bagi importir. Nilai tukar di Rp17.900-an berarti biaya impor masih mahal, berpotensi mendorong kenaikan harga elektronik, bahan baku industri, kedelai, hingga gandum. Sebagai contoh, harga terigu Cakra Kembar hari ini sudah mencapai Rp11.490-Rp13.490 per kilogram. Bagi masyarakat yang ingin menukar dolar untuk kebutuhan seperti umrah atau studi di luar negeri, kurs bank notes di angka Rp18.035 masih terasa mahal.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini masih bergerak di level 5.986, turun 0,38%. Penguatan rupiah yang tipis belum berhasil menarik investor asing kembali. Investor asing masih mencatat net sell Rp240 miliar di saham-saham seperti BMRI, GOTO, dan BBRI.
Lukman Leong dari Doo Financial Futures memproyeksikan rupiah masih akan bergerak dalam rentang Rp17.900 – Rp18.000 per dolar AS hari ini, dengan volatilitas yang tinggi. Ia menambahkan bahwa rupiah cenderung tertekan seiring kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mencatat bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) telah mereda signifikan. Pasar kini hanya memperkirakan probabilitas 25% untuk kenaikan 25 basis poin pada FOMC 27-28 Oktober, turun drastis dari 70% sepekan lalu. Hal ini menyusul pernyataan Wakil Ketua Fed Philip Jefferson dan Presiden Fed New York John Williams yang menyarankan untuk tidak terburu-buru dan menunggu data tambahan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.