JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat ke level 6.055,15 pada Senin, 5 Oktober 2026, ditopang mayoritas bursa Asia yang juga bergerak hijau. Kenaikan 0,30% ini menjadi sinyal positif di tengah gejolak pasar komoditas dan kripto yang juga menunjukkan pergerakan signifikan. Bitcoin melonjak 2% melewati US$86.000, sementara harga minyak Brent stabil di atas US$102 per barel di tengah ketegangan geopolitik.
Pergerakan pasar hari ini mencerminkan rotasi investor ke aset-aset defensif dan energi, serta peningkatan minat pada sektor kripto yang didorong adopsi tokenisasi. Data terkini menunjukkan pasar saham, kripto, dan komoditas bergerak dalam tren positif, memicu perhatian luas di kalangan investor.
IHSG Bergerak Naik, Saham Defensif Jadi Penopang
IHSG pada sesi pertama perdagangan ditutup di level 6.055,15, melonjak 18,26 poin atau 0,30%. Angka ini merupakan level tertinggi sejak Juni 2026. Data akhir hari menunjukkan penguatan lebih lanjut sebesar 1,45%.
Volume transaksi saham mencapai 3,31 miliar saham dengan nilai Rp388,5 miliar di awal sesi, dan ditutup dengan 19,4 juta lot saham diperdagangkan. Sebanyak 350 saham menguat, 128 melemah, dan 220 stagnan. Indeks LQ45 juga naik 0,49% ke 598,40 poin, dengan 28 saham naik.
Sektor consumer non-cyclicals (defensif) dan energi menjadi penopang utama kenaikan IHSG, menunjukkan adanya rotasi modal di tengah kekhawatiran geopolitik. Reliance Sekuritas menganalisis bahwa pola candle white spinning top menunjukkan potensi penguatan lanjutan, dengan level support di 5.973 dan resistance di 6.095. Mayoritas bursa Asia, termasuk Nikkei225 yang melonjak 2,09%, juga terpantau hijau.
Saham-saham yang menjadi top gainer hari ini termasuk PTBA (Bukit Asam) yang menguat 4,26%, MAPI (Mitra Adiperkasa) naik 0,34%, dan AADI (Adaro Andalan) melonjak 3,59%. Analisis Bareksa merekomendasikan saham-saham ini untuk quick trade momentum rebound jangka pendek. Saham ASII (Astra International) dan SMGR (Semen Indonesia) juga direkomendasikan oleh Reliance Sekuritas sebagai saham defensif yang menarik.
Di sisi lain, pergerakan investor asing menunjukkan pola yang bervariasi. Pada sesi pertama, investor asing mencatat net sell sebesar Rp205 miliar, terutama pada saham BBRI, BUMI, dan AMMN. Namun, pada penutupan hari, terjadi net buy sebesar Rp1,2 triliun, seperti yang tertera pada infografis BEI. Saham GOTO menjadi yang teraktif diperdagangkan di pagi hari ini.
Bitcoin Melonjak, Adopsi Tokenisasi Mendorong Pasar Kripto
Pasar kripto global menunjukkan optimisme tinggi pada 5 Oktober 2026, dengan Bitcoin (BTC) melonjak 2,01% menjadi US$86.462 pada pukul 08.05 WIB. Kenaikan ini melanjutkan tren positif Bitcoin yang telah mencapai US$86.569 secara point-to-point sejak September, atau naik 10,11% dari pertengahan September. Kapitalisasi pasar kripto global kini mencapai US$2,94 triliun, naik 1,68%.
Altcoin utama juga turut menguat, dengan Ethereum (ETH) naik 1,24% menjadi US$2.725 dan Binance Coin (BNB) naik 1,35% menjadi US$795. Indeks CoinDesk 20 juga meningkat 1,97%. Kinerja luar biasa ditunjukkan oleh Quant (QNT) yang meroket 261,66% ke US$236,54, serta NEAR yang naik 168,25% menjadi US$5. Pasar Eropa mencatat kenaikan 4% sejak awal September, sementara pasar AS sedikit melemah 3%.
Salah satu pendorong utama optimisme di pasar kripto adalah pertumbuhan tokenisasi saham. Pasar tokenisasi telah melonjak lima kali lipat dari US$600 juta di awal 2025 menjadi US$3 miliar saat ini, menurut data FLOQ. Yudhono Rawis, CEO FLOQ, menyatakan bahwa blockchain bergerak dari sekadar teknologi di balik kripto menjadi infrastruktur keuangan yang membuka kemungkinan baru untuk tokenisasi saham dan ETF. Hal ini mengindikasikan fase adopsi blockchain yang berfokus pada integrasi dengan sistem keuangan tradisional (TradFi).
Meskipun demikian, ada beberapa sinyal peringatan yang perlu diperhatikan. Coinbase Premium Index menunjukkan angka negatif selama 29 hari berturut-turut, dari -0,01% hingga -0,03%, menandakan permintaan di AS belum pulih sepenuhnya. Permintaan spot dilaporkan kontraksi sebesar 170.000 BTC dalam 30 hari terakhir. Namun, open interest Bitcoin meningkat US$2,3 miliar menjadi 653.000 BTC, dengan risiko likuidasi sebesar US$344 juta.
Harga Minyak Brent Stabil di Atas US$102, Emas Antam Naik Rp6.000
Pasar komoditas global, khususnya minyak mentah, terus menunjukkan volatilitas tinggi. Harga minyak Brent stabil di kisaran US$102,25-US$102,87 per barel pada 5 Oktober 2026, naik antara 0,39% hingga 0,80%. Kenaikan ini melanjutkan tren bulanan yang mencapai 7,05% dan kenaikan tahunan sebesar 58,45%. Harga Brent melonjak signifikan 43% dari US$71,32 pada 27 Februari menjadi US$102,31 pada 1 Oktober.
Pemicu utama kenaikan harga minyak adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan menyerang tujuh tanker di Selat Hormuz, dengan dua di antaranya meledak. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan satu serangan per hari sejak 28 September. Selain itu, kelompok Houthi melakukan serangan terhadap fasilitas Aramco di selatan Riyadh menggunakan rudal balistik dan drone pada 3 Oktober. Ketegangan di Selat Bab el-Mandeb juga menambah kekhawatiran pasokan minyak global.
Di sisi lain, G7 telah melepas 100 juta barel cadangan darurat minyak dan diesel untuk menstabilkan harga. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) memutuskan untuk menahan kuota produksi November, sinyal untuk menghentikan kenaikan produksi hingga akhir 2026. Produksi minyak dari Timur Tengah masih di bawah rata-rata 2025, meskipun ekspor Saudi melalui Hormuz pulih.
Sementara itu, harga emas Antam naik signifikan pada 5 Oktober 2026. Tercatat harga emas Antam mencapai Rp2.580.000 per gram, naik Rp6.000 atau 0,6%. Harga buyback juga naik menjadi Rp2.386.000. Emas dunia di pasar spot diperdagangkan di US$4.154,8 per troy ounce, naik 0,36%. Kenaikan harga emas ini didorong oleh statusnya sebagai aset safe haven di tengah ketegangan di Selat Hormuz dan kekhawatiran inflasi global. Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3% dan Bank Dunia menjadi 2,5%, bahkan berpotensi turun ke 1,3%, menambah daya tarik emas sebagai lindung nilai.
Pasar Tradisional dan Digital Menyesuaikan Diri
Di pasar tradisional, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di DIY mencapai 101% dari kuota, atau 388.837 Kiloliter (KL). Pertamina tengah menanti tambahan kuota menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kuota nasional Pertalite 29,26 juta KL, turun dari 31,23 juta KL pada 2025. Realisasi hingga Juni mencapai 13,96 juta KL (47,68% dari kuota), dengan 13,6% pengguna Pertamax bermigrasi ke Pertalite karena faktor harga.
Untuk gas elpiji 3 kg, APBN 2027 memangkas subsidi energi sebesar Rp11,44 triliun menjadi Rp261,5 triliun. Hal ini berdampak pada penurunan kuota LPG subsidi sebesar 945.000 metrik ton (MT) menjadi 8 juta MT, memicu kekhawatiran kelangkaan dan kenaikan harga Rp3.000-Rp5.000 per tabung.
Di sektor digital, TikTok Shop melaporkan penjualan fantastis sebesar US$15,82 miliar pada tahun 2025, melonjak 108%, dengan belanja melalui livestream naik 21%. Sementara itu, tren pencarian “AI agent market” di Google Trends menunjukkan peningkatan tiga kali lipat, mengindikasikan minat yang besar terhadap teknologi kecerdasan buatan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.