JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada Rabu (7/10/2026) setelah sempat anjlok kemarin. Minyak Brent melonjak hingga menembus level $101,51 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat $89,57 per barel.
Kenaikan harga ini dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, keputusan OPEC+ yang menjaga produksi, hingga rilis data stok minyak AS yang menunjukkan penurunan signifikan. Kendati demikian, harga BBM nonsubsidi di SPBU swasta terpantau naik drastis, sementara Pertamina mempertahankan harga jualnya.
Harga Minyak Dunia: Rebound Tajam
Data terbaru per 7 Oktober 2026 menunjukkan, minyak Brent Crude International menguat 0,92% menjadi $101,51 per barel pada siang hari, memulihkan penurunan dari $98,48 pada 6 Oktober. WTI Crude AS juga naik 0,2% menjadi $89,57 per barel. Sementara itu, Murban ADNOC untuk November 2026 stabil di $70,22 per barel.
Penurunan stok minyak mentah AS, yang dilaporkan API (American Petroleum Institute) sebesar 7,1 juta barel — jauh di bawah ekspektasi pasar — turut memberikan sentimen bullish kuat. Ini adalah indikasi permintaan yang lebih tinggi atau pasokan yang lebih ketat dari perkiraan.
Faktor Pemicu Kenaikan Harga
Beberapa kondisi global mendorong kembali harga minyak di atas $100 per barel:
1. Ketegangan Geopolitik Selat Hormuz
Konflik di Timur Tengah terus memanas dengan dilaporkannya sembilan insiden kapal di Selat Hormuz sepanjang Oktober 2026. Laporan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) mengonfirmasi adanya tanker yang dihantam ranjau atau drone Iran. Risiko gangguan pasokan di salah satu jalur pelayaran minyak terpenting dunia ini jelas memicu kekhawatiran pasar.
2. Serangan Houthi ke Arab Saudi
Pada hari sebelumnya, koalisi pimpinan Saudi berhasil mencegat satu rudal balistik Houthi yang menargetkan Khamis Mushait di Arab Saudi. Insiden ini, menyusul dua serangan rudal sebelumnya ke Israel, meningkatkan risiko geopolitik di Teluk dan berpotensi mengganggu stabilitas pasokan minyak dari wilayah tersebut.
3. Kebijakan Produksi OPEC+ yang Hati-Hati
Pada Senin (5/10/2026), kelompok OPEC+ (Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, termasuk Rusia) memutuskan untuk meningkatkan produksi kolektif hanya sebesar 137.000 barel per hari mulai November 2026. Angka ini jauh lebih kecil dari ekspektasi pasar yang memprediksi kenaikan antara 200.000-300.000 barel per hari. Analis ING menyatakan bahwa sikap hati-hati OPEC+ bertujuan untuk menjaga harga di tengah proyeksi surplus di kuartal IV 2025-2026. Keputusan ini sempat membuat harga minyak melonjak 1% pada Senin.
4. Pelepasan Cadangan Darurat G7 dan Ekspor Timur Tengah
Sebagai upaya meredam kenaikan harga, G7 mengumumkan pelepasan 100 juta barel cadangan darurat (minyak mentah dan diesel). Di sisi lain, ekspor minyak dari Timur Tengah juga telah kembali di atas level sebelum perang Iran-Israel selama empat hari berturut-turut di akhir September, dengan Kuwait mencapai 75% dari produksi pra-perang dan Irak menyewa kapal ekstra. Upaya ini menjadi salah satu faktor yang menahan harga Brent agar tidak melonjak ke $120.
5. Arab Saudi Potong Harga Jual ke Asia
Secara mengejutkan, Saudi Aramco justru memotong Official Selling Price (OSP) untuk Arab Light ke Asia hingga ke level terendah dalam enam tahun. Keputusan ini berlawanan dengan ekspektasi analis yang memprediksi kenaikan harga. Menurut analis StoneX, hal ini menunjukkan sentimen pasar masih lemah dan Arab Saudi berupaya mempertahankan pangsa pasar di Asia meskipun harga Brent sedang tinggi.
Dampak Kenaikan Harga Minyak ke Indonesia
Kenaikan harga minyak dunia ini memiliki dampak langsung pada harga BBM di Indonesia, meskipun dengan respons yang berbeda antara BUMN dan swasta.
BBM Pertamina Tetap Stabil
Hingga 7 Oktober 2026, harga BBM yang dijual Pertamina masih stabil dan belum mengalami perubahan. Biosolar subsidi tetap Rp6.800/liter dan Pertalite RON 90 di Rp10.000/liter. Harga Pertamax RON 92 (Rp15.950), Pertamax Green 95 (Rp19.150), Pertamax Turbo 98 (Rp18.500), Dexlite (Rp18.000), dan Pertamina Dex (Rp19.500) juga tetap dipertahankan sejak September. Stabilitas harga ini didukung oleh subsidi APBN sebesar Rp331,4 triliun yang dialokasikan hingga 31 Agustus 2026, menjadikan Indonesia sebagai negara termurah kedua di Asia untuk bensin subsidi.
BBM Swasta Melambung Tinggi
Berbeda dengan Pertamina, SPBU swasta seperti Vivo, Shell, dan BP menaikkan harga BBM nonsubsidi secara signifikan pada awal Oktober. Misalnya, Vivo Revvo 95/BP Ultimate Bensin 95 melonjak menjadi Rp19.330 dari sebelumnya Rp16.760, kenaikan sebesar Rp2.570. Harga diesel dari ketiga merek swasta tersebut juga kompak di angka Rp25.420 per liter.
Dampak pada Rupiah dan SUN
Penguatan harga minyak dunia juga memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah dan Surat Utang Negara (SUN). Rupiah tertekan dengan nilai NDF (Non-Deliverable Forward) Rp17.895 (turun 0,14%) dan Spot Rp17.900. Dollar Index (DXY) menguat 0,1% ke 101,93. Sementara itu, yield SUN 10 tahun naik 2 bps menjadi 7,21%. Jika Brent bertahan di atas $101, biaya impor migas Indonesia akan meningkat, subsidi energi berpotensi membengkak, dan Bank Indonesia kemungkinan akan mengambil langkah-langkah antisipasi.
Jadwal Penting Selanjutnya
Investor dan pelaku pasar akan memantau ketat rilis data Stok Minyak Mingguan EIA AS pada pukul 21.30 WIB nanti. Jika data menunjukkan penurunan stok kembali, harga Brent diperkirakan bisa melesat ke $102-$103. Pivot teknikal support saat ini berada di $88,86. Analis juga menantikan sinyal surplus dari laporan EIA dan JPMorgan, yang memproyeksikan produksi AS mencapai rekor 13,53 juta barel per hari.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.