Rabu, 7 Oktober 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Menteri Perminyakan Iran Mundur di Tengah Krisis Ekonomi

Menteri Perminyakan Iran Mundur di Tengah Krisis Ekonomi
Menteri Perminyakan Iran Mundur di Tengah Krisis Ekonomi. Credit: JournalArta

TEHERAN, JOURNALARTA.COM – Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, secara resmi mengundurkan diri pada Minggu, 4 Oktober 2026, malam. Pengunduran diri ini terjadi di tengah blokade Amerika Serikat yang menghentikan ekspor minyak Iran, ambruknya nilai rial, dan inflasi yang melambung hingga 85 persen.

Kantor Kepresidenan Iran mengumumkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian telah menerima surat pengunduran diri Paknejad. Sebagai penggantinya, Hamid Bovard, CEO National Iranian Oil Company (NIOC), ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Perminyakan berdasarkan dekret Pasal 135 Konstitusi.

Mohsen Paknejad, yang menjabat sejak Agustus 2024, dilaporkan mengajukan pengunduran diri dengan alasan pribadi. Menurut Deputi Komunikasi Presiden, Mehdi Tabatabaei, pengajuan ini sempat ditolak oleh Pezeshkian namun akhirnya diterima karena Paknejad bersikeras. Presiden Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas pengabdian Paknejad.

Blokade AS dan Ekspor Minyak Nol

Pengunduran diri Paknejad tak lepas dari tekanan ekonomi yang memuncak di Iran. Amerika Serikat melancarkan Operasi Pengasingan Ekonomi pada 25 Agustus 2026, dipimpin oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Operasi ini mencakup blokade laut total terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sebagai respons atas tindakan Iran yang mencegat tanker di Selat Hormuz dan menembak kapal tak berizin.

Konsekuensinya, Menteri Keuangan AS mengklaim bahwa Iran kini memiliki nol kapal di laut dan pendapatan minyak mereka minggu ini mencapai nol. Gubernur Bank Sentral Iran juga mengakui bahwa ekspor minyak efektif nol. Padahal, Selat Hormuz menjadi jalur vital yang menangani 20% minyak dan LNG dunia, serta pendapatan minyak menyumbang 70% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Iran.

Skandal Keuangan dan Rial Terpuruk

Tiga hari sebelum pengunduran diri Paknejad, media Farhikhtegan membongkar skandal senilai hampir US$2 miliar (sekitar Rp35,6 triliun). Perantara ekspor minyak Iran dilaporkan menunggak pembayaran ke NIOC. Tiga oknum pemegang konsesi minyak disebut-sebut menunggak ratusan juta dolar masing-masing. Parlemen Iran langsung membuka investigasi atas kasus ini, yang diyakini analis sebagai bagian dari perang internal perebutan devisa.

Krisis diperparah dengan ambruknya nilai rial Iran ke titik terparah sepanjang sejarah. Nilai tukar dolar mencapai 269.000 toman (2,69 juta rial) per US$1, naik 12% sejak 9 September dan turun lebih dari 10% dalam sebulan. Empat hari sebelumnya, nilai tukar masih 255.000 toman, jauh berbeda dengan dua tahun lalu yang hanya 60.000 toman per dolar AS. Gaji minimum di Iran saat ini hanya sekitar US$66 atau sekitar Rp1,1 juta per bulan, membuat warga mengantre panjang untuk BBM dan pedagang melakukan demo massal dengan menutup toko.

Inflasi Mencekik dan Ekonomi Minus

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda