Kamis, 8 Oktober 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Hashim: Prabowo Belajar Swasembada dari Soeharto

Hashim: Prabowo Belajar Swasembada dari Soeharto
Hashim: Prabowo Belajar Swasembada dari Soeharto

JAKARTA — Hashim Djojohadikusumo menyebut Presiden Prabowo Subianto sejak lama memprioritaskan ketahanan pangan dan belajar dari prinsip yang diterapkan Presiden ke-2 RI, Soeharto. Menurut Hashim, ketersediaan pangan yang cukup dapat menjaga masyarakat tetap tenang sekaligus menekan potensi kegaduhan sosial dan politik.

Pernyataan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi itu disampaikan di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (7/10/2026). Bagi pemerintah, agenda swasembada pangan kini berhadapan dengan dua hal sekaligus: menjaga pasokan kebutuhan pokok dan mengurangi ketergantungan pada sumber dari luar negeri.

Hashim menggambarkan perhatian Prabowo terhadap ketahanan pangan sebagai prioritas yang sudah lama dipegang. Ia mengaitkan pandangan itu dengan pelajaran dari Soeharto tentang hubungan antara kecukupan pangan dan ketenteraman masyarakat.

“Selain dari ketahanan energi, Pak Prabowo begitu terobsesi dari dulu, ya fixated, obsessed dengan ketahanan pangan,” ujar Hashim.

Swasembada pangan dan stabilitas masyarakat

Hashim mengatakan, prinsip yang dipelajari Prabowo menempatkan pangan sebagai kebutuhan mendasar. Ketika masyarakat memiliki cukup bahan pangan, menurut dia, kondisi sosial dan politik lebih mudah terjaga.

“Karena mungkin beliau belajar dari Pak Harto bahwa ketahanan pangan itu, asal ada pangan yang cukup, rakyat bisa tenang dan nyaman, tidak ada gaduh dan sebagainya,” kata Hashim.

Ia menyebut pelajaran itu berasal dari masa lalu dan menyatakan dukungannya terhadap pendekatan tersebut. “Itu pelajaran yang Pak Prabowo dapat dari Pak Harto dari zaman dulu, dan saya menghayati serta mendukung hal tersebut,” lanjutnya.

Dampaknya terasa langsung pada kehidupan sehari-hari: ketika pasokan pangan terganggu, masyarakat menghadapi tekanan terhadap ketersediaan kebutuhan pokok. Karena itu, swasembada bukan sekadar target produksi, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan negara menjaga pasokan agar tidak mudah terpukul oleh gangguan dari luar.

Hashim mengingatkan bahwa ketahanan pangan Indonesia pernah diuji saat pandemi Covid-19 dan ketika perang Rusia-Ukraina mengganggu pasokan global. Ia juga menyoroti ketergantungan terhadap sumber energi dari Timur Tengah, seraya menekankan perlunya menjaga ketahanan energi bersamaan dengan pangan.

“Sekarang kita melihat juga kepekaan dan ketergantungan kita dengan sumber-sumber dari Timur Tengah. Kita harus menjaga ketahanan energi sekaligus ketahanan pangan,” ucapnya.

Delapan komoditas dan target berikutnya

Dalam pernyataan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan kemandirian pangan menjadi fondasi kemajuan bangsa. Ia juga menghubungkan kedaulatan pangan dengan kesejahteraan petani dan produsen.

“Tidak ada negara yang maju tanpa swasembada. Oleh karena itu, Pak Prabowo mengatakan swasembada itu kehormatan,” kata Zulkifli di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Zulkifli menyampaikan pandangannya saat meluncurkan buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul, yang ditulis bersama Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan. Buku itu mengangkat isu pangan melalui pembahasan kebijakan dan kedaulatan bangsa dengan bahasa yang ditujukan kepada masyarakat luas.

“Makan itu tidak sekadar nasi dan lauk di piring. Kita harus mulai memahami betapa pentingnya soal makan, karena ini menyangkut kedaulatan, peradaban, dan masa depan kita,” jelas Zulkifli.

Pada Agustus 2026, Prabowo mengumumkan Indonesia telah mencapai swasembada untuk delapan komoditas utama: beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Pengumuman itu menjadi ukuran capaian yang disampaikan pemerintah, sementara target berikutnya mencakup komoditas yang masih perlu dikejar.

Pemerintah menargetkan swasembada bawang putih rampung dalam tiga tahun. Untuk daging sapi dan kerbau, targetnya berada dalam kurun lima hingga enam tahun. Tahap berikutnya akan menguji apakah target tersebut dapat dicapai sambil menjaga pasokan pangan dan energi yang menjadi perhatian Hashim.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 8 Oktober 2026: Cara Cek NIK KTP Online