Senin, 12 Oktober 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Bandara Riyadh King Khalid Diserang: 12 Tewas, 309 Luka

Bandara Riyadh
Bandara Riyadh King Khalid Diserang 10 Okt 2026: 12 Tewas 309 Luka. Credit: Dok. JournalArta

RIYADH, JOURNALARTA.COM – Bandara Internasional King Khalid (RUH) di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, diserang rudal pada Sabtu, 10 Oktober 2026, sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Insiden mematikan ini menyebabkan sedikitnya 12 orang tewas dan 309 lainnya luka-luka, menurut data resmi Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA).

Akibat serangan tersebut, operasional bandara dihentikan total, menyebabkan pembatalan hampir seluruh penerbangan pada 11 Oktober dan sekitar 60% penerbangan pada 12 Oktober 2026. Ini merupakan serangan ketiga dalam sepekan terakhir yang menargetkan bandara vital tersebut.

Detik-Detik Serangan Mematikan 10 Oktober 2026

Serangan pertama terjadi pada Sabtu, 10 Oktober 2026, sekitar pukul 15.00 AST, saat terminal sedang ramai penumpang. Rudal balistik atau proyektil menghantam langsung atap Terminal 3 dan 4, yang melayani penerbangan domestik di King Khalid International Airport, Riyadh timur laut.

Rekaman CCTV dari Kementerian Media Saudi menunjukkan atap terminal runtuh menimpa penumpang, menimbulkan asap tebal dan api. “Orang-orang terluka di depan mata saya, semua orang berlarian,” ujar seorang saksi. Kerusakan properti masih dalam penilaian, namun Gate 401 dilaporkan hancur.

GACA mengumumkan penangguhan operasional “sementara menunggu penilaian kerusakan dan inspeksi keselamatan”. Sekolah-sekolah di Riyadh dialihkan ke pembelajaran jarak jauh dari Minggu hingga Kamis akibat eskalasi ini.

Rincian Korban Tewas dan Luka-Luka

Data resmi GACA mengonfirmasi 12 korban tewas pada serangan 10 Oktober. Mereka termasuk 4 warga Arab Saudi, 2 warga Bangladesh (salah satunya ulama Nasrullah Al-Badr yang akan umrah), 1 warga Amerika Serikat, 1 warga Mesir, 1 warga Yordania, 1 warga Suriah, 1 warga Palestina, dan 1 warga Sudan. Pada Minggu, 11 Oktober, Kedutaan India mengonfirmasi Mohammed Yusuf Ali, seorang warga India dari Hyderabad, meninggal dunia akibat luka-luka dari serangan 10 Oktober, sehingga total korban tewas menjadi 13 orang. Istri dan dua anaknya juga terluka.

Sebanyak 309 orang mengalami luka-luka, beberapa di antaranya kritis. Para korban diangkut menggunakan ambulans dan helikopter, dengan dokter dari rumah sakit lain dipanggil untuk membantu. Di antara korban luka-luka adalah 30 warga Filipina (4 luka berat, 3 di ICU), jamaah umrah yang menuju Mekkah dan Madinah, serta seorang wanita Prancis.

Serangan Susulan dan Klaim Tanggung Jawab

Sehari setelah serangan mematikan pertama, Bandara King Khalid kembali diserang pada Minggu sore, 11 Oktober 2026, bersamaan dengan Bandara King Fahd di Dammam. Serangan kedua ini menewaskan 1 orang warga Pakistan yang tinggal di Saudi dan melukai 11 lainnya, menurut GACA. Akibatnya, total korban tewas dari dua serangan mencapai 14 orang (13+1) dan 320 orang luka-luka (309+11).

Koalisi Saudi yang dipimpin Arab Saudi, melalui Juru Bicara Mayor Jenderal Turki Al Malki, menyatakan serangan itu merupakan “serangan teroris pengecut oleh milisi Houthi” dan “kejahatan perang penuh berdasarkan Hukum Humaniter Internasional.” Koalisi berjanji akan merespons “tegas dan terukur sesuai hukum internasional.”

Sementara itu, Juru Bicara Houthi Yaman, Yahya Saree, pada Minggu, 11 Oktober, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka juga mengklaim menyerang King Fahd Airport Dammam dan dua fasilitas Saudi Aramco. Houthi memperingatkan maskapai penerbangan dan pelancong untuk menjauhi bandara-bandara Saudi, menyatakan mereka “zona operasi militer,” kecuali bandara Mekkah dan Madinah yang disebut aman.

Dampak dan Kondisi Warga Negara Indonesia

Serangan ini memicu kecaman dari berbagai negara, termasuk PBB, Rusia, Australia, Bangladesh, India, dan Amerika Serikat. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan “sangat terkejut dan mengutuk keras serangan mematikan oleh Houthi pada Sabtu lalu.” Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan, “Kita bisa bertindak sangat cepat,” dan AS telah mengirim personel intelijen ke Saudi.

Bagi Indonesia, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh pada Minggu, 11 Oktober 2026, memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban meninggal. KBRI masih mengonfirmasi kemungkinan adanya WNI di antara korban luka. Direktur Jenderal Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Henny, mengimbau 581.000 WNI di Arab Saudi untuk tetap waspada dan menghindari area Bandara King Khalid, serta mengecek status penerbangan mereka ke maskapai terkait. KBRI Riyadh juga menyediakan nomor darurat +966 569173990 untuk bantuan.

Penerbangan maskapai besar seperti Lufthansa, Emirates, dan Kuwait Airways membatalkan jadwal mereka. Kedutaan Besar Inggris, AS, dan Kanada juga mengeluarkan larangan bepergian ke Bandara King Khalid, diikuti peringatan dari FAA.

Meskipun eskalasi ini, konferensi investasi dan energi besar yang akan datang di Riyadh akan tetap berjalan, dengan penyelenggara menjamin keamanan. Ancaman Houthi pada 5 Oktober sebelumnya menyatakan jika Bandara Sanaa tidak dapat digunakan untuk pendaratan, maka bandara Saudi juga tidak akan diizinkan beroperasi, mengisyaratkan “blokade demi blokade.” Kondisi ini turut memicu kekhawatiran di pasar global, dengan harga minyak Brent mencapai US$102,70 dan WTI US$90,50 pada 12 Oktober, di tengah kekhawatiran pasokan dan pengiriman melalui Selat Hormuz akan terganggu.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda