Senin, 12 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Breaking! IHSG Anjlok 1%

IHSG anjlok 1% saat layar perdagangan saham bergerak merah
Layar perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia saat IHSG melemah. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — IHSG anjlok 1,01 persen pada perdagangan Senin (12/10/2026), setelah sempat dibuka menguat dan menyentuh level tertinggi 6.128,72. Indeks berada di 6.032,32 pada pukul 10.42 WIB, ketika tekanan jual membawa pergerakan ke titik terendah 6.029,80.

Pelemahan memangkas kenaikan pada awal sesi. Bagi investor, perhatian kini tertuju pada rangkaian data ekonomi China dan Amerika Serikat yang dirilis pekan ini, serta kemungkinan dampaknya terhadap pasar saham dan nilai tukar.

IHSG dibuka di level 6.109,32 pada pukul 09.00 WIB, lebih tinggi daripada penutupan sebelumnya di 6.093,76. Penguatan tak bertahan lama. Indeks sempat naik ke 6.128,72 sebelum berbalik turun dan bergerak di zona merah.

Tekanan jual berlanjut hingga menjelang pukul 10.00 WIB. Setelah itu, indeks bergerak terbatas di kisaran 6.040-an. Pada pukul 10.42 WIB, IHSG turun 61,44 poin atau 1,01 persen dari penutupan sebelumnya.

Namun, pelemahan berkurang beberapa menit kemudian. Sekitar pukul 10.48 WIB, IHSG berada di 6.044,67, turun 49,09 poin atau 0,81 persen. Volume perdagangan saat itu tercatat 138,54 juta lot, dengan nilai transaksi sekitar Rp3,74 triliun.

IHSG anjlok 1%, pasar cermati agenda global

Pergerakan indeks berlangsung saat pasar keuangan menghadapi pekan padat agenda. Pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, berlangsung pada 12-18 Oktober. Sejumlah pejabat keuangan dunia dijadwalkan hadir di tengah gejolak geopolitik, kenaikan biaya energi, suku bunga, dan utang publik.

Pidato pejabat bank sentral AS juga masuk perhatian. Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan Michelle W. Bowman dijadwalkan menghadiri agenda di Bangkok pada 14 Oktober. Sehari kemudian, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan berdiskusi dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva.

Agenda tersebut penting karena arah kebijakan suku bunga AS dapat memengaruhi dolar, imbal hasil obligasi, rupiah, dan pasar saham negara berkembang. Bagi investor di Indonesia, perubahan sentimen global berpotensi menambah tekanan atau memberi ruang pemulihan pada perdagangan domestik.

Pasar juga menunggu data inflasi AS untuk September yang akan dirilis pada Rabu, 14 Oktober. Pada Agustus, inflasi tahunan AS tercatat 3,4 persen, sedangkan inflasi bulanan naik 0,4 persen, terutama didorong harga bensin. Jika tekanan harga kembali meningkat, ruang pelonggaran moneter The Fed dapat semakin terbatas.

Data China berpengaruh pada ekspor Indonesia

China akan merilis data inflasi konsumen dan produsen September pada 14 Oktober. Angka terbaru akan memberi petunjuk mengenai permintaan domestik dan tekanan biaya di ekonomi terbesar kedua dunia itu.

Pada Agustus, inflasi konsumen China mencapai 0,8 persen secara tahunan, naik dari 0,5 persen pada Juli. Inflasi produsen meningkat menjadi 3,8 persen dari 3,5 persen. Perubahan ini diperhatikan karena China merupakan mitra dagang utama Indonesia dan pasar penting bagi ekspor komoditas nasional.

Neraca perdagangan China untuk September juga dijadwalkan diumumkan pada hari yang sama. Pada Agustus, surplus perdagangan negara itu mencapai US$119,09 miliar. Ekspor tumbuh 25 persen secara tahunan menjadi US$401,44 miliar, sementara impor naik 28,2 persen menjadi US$282,36 miliar.

Jika impor China terus tumbuh, permintaan terhadap barang dan komoditas dari Indonesia berpotensi ikut terdorong. Sebaliknya, data yang melemah dapat menjadi sinyal bahwa permintaan dari mitra dagang utama itu belum cukup kuat. Karena itu, rilis tersebut menjadi salah satu petunjuk yang dicermati pelaku pasar, bukan sekadar angka perdagangan luar negeri.

Sentimen domestik pekan ini relatif sepi, tetapi perhatian politik diperkirakan menghangat menjelang peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Perkembangan itu turut masuk dalam daftar faktor yang dapat membentuk suasana pasar, bersama kabar geopolitik dan agenda ekonomi global.

Di luar data ekonomi, Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya mempertimbangkan membantu Arab Saudi menyerang kelompok Houthi di Yaman setelah serangan mematikan di Bandara Riyadh. Langkah tersebut berpotensi membuka front baru dalam perang Iran. “Kami mungkin akan melakukannya.

Kami akan mempertimbangkannya,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Sabtu (10/10/2026), seperti dikutip Reuters.

Pada pukul 10.48 WIB, nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia telah mencapai sekitar Rp3,74 triliun.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair