JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,39% atau 145,53 poin ke level 5.948,23 pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 13.42 WIB. Penurunan tajam ini membuat IHSG jebol di bawah level psikologis 6.000, setelah sempat menguat di awal perdagangan.
Pergerakan signifikan ini terjadi di tengah sentimen negatif global dan domestik yang bertubi-tubi, mulai dari konflik di Timur Tengah yang memanas hingga kekhawatiran data inflasi Amerika Serikat dan China yang akan dirilis pekan ini. Investor asing pun terpantau melakukan aksi jual bersih besar-besaran.
IHSG hari ini dibuka menguat di level 6.109,32, naik 0,26% dari penutupan Jumat pekan lalu di 6.093,76. Bahkan, indeks sempat menyentuh level tertinggi harian 6.128,72 pada pukul 09.05-09.15 WIB. Namun, euforia pagi itu tak bertahan lama. Tekanan jual masif mulai muncul sekitar pukul 09.14 WIB, menyebabkan indeks terus meluncur dan menembus level 6.000.
Pada penutupan sesi I, IHSG berakhir di 5.975,78, atau turun 1,94% (-117,97 poin). Volume perdagangan sesi I mencapai 39,18 miliar saham dengan nilai transaksi Rp6,47 triliun, melibatkan 1,05 juta kali frekuensi. Sebanyak 537 saham tercatat turun, 159 naik, dan 95 stagnan. Indeks LQ45 juga tertekan 1,62% ke 591,929.
Setelah jeda makan siang, sesi II dibuka pukul 13.30 WIB dan IHSG langsung melanjutkan penurunannya, terjun ke 5.948,23 pada pukul 13.42 WIB. Poin terendah hari ini tercatat di 5.943,68. Dengan demikian, dari pembukaan hingga pukul 13.42 WIB, IHSG sudah kehilangan sekitar 161 poin dalam waktu kurang dari empat jam perdagangan efektif.
Sentimen Negatif Penyebab Anjloknya IHSG
Menurut analisis dari Pilarmas Investindo Sekuritas dan BRI Danareksa Sekuritas, beberapa sentimen negatif global dan domestik menjadi pemicu utama anjloknya IHSG:
| Penyebab | Detail |
|---|---|
| Konflik Timur Tengah Memanas | Kelompok Houthi menyerang bandara utama Arab Saudi. Kekhawatiran konflik meluas, dengan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan intervensi di Yaman. Ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. |
| Menunggu Data Inflasi AS & China | Investor ‘wait and see’ menjelang rilis data inflasi AS minggu ini, serta data perdagangan dan inflasi China. Ada kekhawatiran Federal Reserve (Fed) akan kembali hawkish, yang memicu kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS. |
| Asing Lakukan Net Sell Besar | Investor asing tercatat melakukan jual bersih (net sell) sebesar Rp2,5 triliun dalam sepekan terakhir. Hari ini, saham-saham seperti TLKM (Rp215,56 miliar), BMRI (Rp205,94 miliar), BBCA (Rp176,3 miliar), ASII (Rp98,48 miliar), dan BBRI (Rp78,89 miliar) menjadi target utama penjualan. Bank-bank besar dan saham telekomunikasi ini menjadi penekan utama IHSG. |
| Rupiah Melemah | Nilai tukar rupiah melemah tipis ke Rp17.883 per Dolar AS, turut berkontribusi pada aksi jual investor asing dan menekan pasar saham domestik. |
| MSCI Warning | MSCI memperpanjang review status Indonesia hingga November 2026, dengan ancaman downgrade ke kategori ‘frontier market’. Sebelumnya, 18 saham Indonesia sudah dihapus dari indeks MSCI pada Mei 2026, seperti TPIA dan BREN, yang memicu outflow dana asing. |
Meskipun mayoritas saham tertekan, beberapa saham di sektor energi justru mencatat penguatan, bahkan mencapai Auto Rejection Atas (ARA) pada pagi hari. Beberapa di antaranya seperti Dana Brata Luhur naik 7,14% ke Rp3.000 dan Paragon Karya Perkasa naik 4,59% ke Rp7.400. IDX Energy secara keseluruhan sempat menguat 0,17% di sesi pagi.
MNC Sekuritas memprediksi IHSG saat ini berada dalam fase ‘wave iv dari wave c’. Skenario terbaik, indeks bisa rebound menuju gap 6.227-6.231. Namun, investor perlu mewaspadai koreksi lebih dalam hingga 5.850-5.911 jika level support 5.973 jebol. Mengingat IHSG sudah menembus 5.973 hari ini, potensi penurunan lebih lanjut ke area 5.850-5.911 sangat terbuka. Sepanjang tahun 2026, IHSG telah terkoreksi 29,43% dan dalam setahun terakhir turun 21,24%, dengan kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp10.708 triliun.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.