JAKARTA — IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan Kamis (15/10), dengan area 5.900–5.850 menjadi support penting yang perlu dijaga. Tim riset BRI Danareksa dan analis BinaArtha Sekuritas menyodorkan sejumlah saham untuk dicermati, termasuk EMTK, MEDC, KLBF, dan UNTR.
BRI Danareksa menilai kecenderungan indeks masih bearish selama belum mampu kembali menembus level psikologis 6.000. Jika support 5.900–5.850 terlewati ke bawah, investor perlu mewaspadai risiko pelemahan lanjutan.
Tekanan datang saat investor juga mencermati inflasi Amerika Serikat serta pergerakan dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Perkembangan itu dapat memengaruhi arus dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
IHSG perlu kembali melewati 6.000
Menurut Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas, indeks perlu melewati level 6.000 untuk memperbaiki momentum jangka pendek. Tim riset menyebut area 5.900–5.850 sebagai support yang perlu dipertahankan.
“Area 5.900–5.850 menjadi support penting yang perlu dipertahankan,” kata Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas, dikutip Kamis (14/10). Tim tersebut mengingatkan bahwa penembusan support dapat membuka ruang pelemahan berikutnya.
Dalam analisis teknikal, support adalah area harga yang dipandang berpotensi menahan penurunan. Ketika harga mendekati area itu, minat beli dapat meningkat, meski level support bukan jaminan bahwa harga akan berbalik naik.
Resistance, sebaliknya, merupakan area yang berpotensi menahan kenaikan. Tekanan jual yang muncul saat harga mendekati resistance dapat membatasi penguatan. Bagi investor, kedua level ini menjadi acuan untuk membaca risiko dan momentum, bukan kepastian arah pasar.
Inflasi AS menambah tekanan pasar
Inflasi AS pada September tercatat 3,7% secara tahunan, lebih tinggi dari konsensus 3,6%. Perhatian investor juga tertuju pada pergerakan DXY dan yield US Treasury, yang dapat memberi petunjuk tentang kekuatan dolar serta ekspektasi suku bunga.
Inflasi yang lebih tinggi berpotensi memperkuat dolar AS dan mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sekaligus menambah tekanan terhadap rupiah dan IHSG.
Dampaknya terasa pada cara investor menimbang aset berisiko. Ketika tekanan eksternal meningkat, pergerakan indeks domestik dapat ikut terpengaruh oleh perubahan minat investor terhadap pasar berkembang. Karena itu, level teknikal dan faktor global sama-sama menjadi perhatian dalam perdagangan hari ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.