JAKARTA — Hilirisasi industri agro dinilai berpotensi membantu Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2028. Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Yulia Astuti, menyebut peningkatan nilai tambah komoditas pertanian dan perkebunan dapat mendorong transformasi ekonomi sekaligus memperluas pekerjaan di dalam negeri.
Pernyataan itu disampaikan Yulia dalam keterangan tertulis pada Jumat (16/10/2026). Strategi yang didorong Kemenperin mencakup pengolahan komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah, penguatan investasi, dan perluasan penyerapan tenaga kerja dari sektor hulu hingga manufaktur hilir.
Taruhannya bukan hanya nilai jual produk. Pengolahan di dalam negeri dapat memperkuat daya saing industri agro, sementara ketersediaan pasokan bahan baku tetap menjadi pekerjaan penting agar kapasitas hilir bisa berjalan.
Hilirisasi industri agro bertumpu pada investasi dan bahan baku
Indonesia memiliki basis pertanian dan perkebunan yang dapat menjadi modal bagi pengembangan industri agro. Namun, komoditas yang melimpah tidak otomatis menghasilkan nilai tambah lebih besar jika pengolahannya terbatas. Kemenperin menempatkan investasi dan fasilitas pendukung sebagai bagian dari upaya mendorong proses pengolahan tersebut.
Yulia mengatakan kebijakan investasi perlu terus dievaluasi agar mendukung kebutuhan industri. Pemerintah, menurut keterangan yang disampaikan, berupaya menyediakan fasilitasi penanaman modal dan membuka ruang penyempurnaan kebijakan. Harapannya, investasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi ikut memperkuat hubungan antara pasokan komoditas dan kegiatan manufaktur.
“Peluang investasi hilirisasi untuk pertumbuhan ekonomi itu tentunya akan mendorong terjadinya transformasi ekonomi kita,” ujar Yulia dalam keterangan tertulis.
Dampak yang diharapkan menyentuh pekerja dan pelaku usaha di sepanjang rantai produksi. Pengolahan di dalam negeri dapat memperluas kebutuhan tenaga kerja mulai dari kegiatan hulu hingga pabrik pengolahan. Bagi industri, kepastian pasokan dan dukungan investasi ikut menentukan apakah bahan mentah bisa diproses menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi di pasar.
Ekspor agro menunjukkan peluang sekaligus tekanan
Data Kementerian Perdagangan yang dikutip dalam bahan sumber menunjukkan nilai ekspor nasional pada April 2026 mencapai US$25,30 miliar. Angka itu tumbuh 12,32 persen secara bulanan dan naik 21,98 persen secara tahunan.
Pergerakan tiap komoditas tidak seragam. Ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah tercatat melonjak 54,44 persen, sedangkan tembakau dan rokok naik 43,49 persen. Namun, secara kumulatif pada Januari–April 2026, ekspor sektor pertanian justru turun 26,27 persen.
Perbedaan arah tersebut menunjukkan mengapa penguatan pengolahan menjadi relevan bagi industri agro. Kenaikan ekspor sejumlah komoditas belum menghapus tekanan pada kinerja pertanian secara keseluruhan. Produk yang diolah lebih lanjut di dalam negeri diharapkan memiliki daya saing lebih kuat, tetapi peluang itu bergantung pada kemampuan industri menjaga ketersediaan bahan baku dan bahan penolong.
CEO Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Anton Sulaiman, menyoroti persoalan pasokan dari sektor hulu. Ia menilai pemenuhan bahan baku dan bahan penolong masih menjadi kendala utama bagi industri hilir, sehingga perlu ditangani agar kegiatan pengolahan dapat berlangsung konsisten.
Target pertumbuhan perlu ditopang kesiapan industri
Target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2028 menjadi arah yang disebut Kemenperin dalam mendorong hilirisasi agro. Namun, bahan yang tersedia tidak merinci proyeksi kontribusi industri agro terhadap target tersebut. Karena itu, capaian yang diharapkan masih bergantung pada pelaksanaan kebijakan, realisasi investasi, serta kecocokan antara kebutuhan pabrik dan pasokan komoditas.
Angka ekspor nasional dari Kementerian Perdagangan memberi gambaran bahwa pasar bergerak dengan hasil berbeda antarproduk dan periode.
Bagi perusahaan pengolahan, kendala bahan baku dapat menghambat pemanfaatan fasilitas produksi; bagi pekerja, ekspansi industri baru berpotensi membuka kesempatan kerja hanya jika kegiatan pengolahan benar-benar berkembang.
Keterhubungan antara petani, pemasok, investor, dan manufaktur menjadi bagian penting dari upaya memperbesar nilai tambah.
Yulia menempatkan investasi sebagai pendorong transformasi, sementara Anton mengingatkan sisi pasokan yang perlu dibereskan. Kedua hal itu mengarah pada tantangan yang sama: industri pengolahan membutuhkan dukungan modal sekaligus bahan yang cukup untuk menjaga proses produksi.
Kemenperin menyatakan pemerintah terus menyediakan fasilitas dan mengevaluasi kebijakan, sedangkan kendala bahan baku dan bahan penolong tetap menjadi perhatian pelaku industri hilir.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.