JAKARTA — Sistem prasmanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka kesempatan bagi siswa untuk menambah makanan setelah menerima porsi awal sesuai standar gizi. Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan cara penyajian ini akan diterapkan bertahap melalui uji coba dan evaluasi, dengan mempertimbangkan kesiapan dapur serta sekolah.
Kepala BGN Sudaryono menjelaskan, sekolah yang ingin mencoba sistem tersebut diberi kesempatan, tetapi pelaksanaan tidak bisa langsung dilakukan tanpa persiapan. Dapur perlu dilatih, pihak sekolah juga harus memahami mekanismenya, dan penerapan mesti mengikuti standar yang sama.
Uji coba prasmanan di SMP Kemala Bhayangkari 3 Jakarta memberi gambaran bagaimana metode itu berjalan di lingkungan sekolah. Republika melaporkan siswa mengambil sendiri makanan yang tersedia dan dapat menentukan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sistem prasmanan MBG perlu kesiapan dapur dan sekolah
BGN menekankan bahwa perubahan cara penyajian membutuhkan penyesuaian teknis. Sekolah dan dapur harus siap melayani siswa, sementara pembagian makanan tetap mengacu pada ketentuan gizi yang ditetapkan.
“Prasmanan ini bukan berarti bisa diterapkan begitu saja. Dapurnya harus dilatih, sekolahnya juga harus dilatih, dan kami harus memastikan semuanya siap. Setelah itu, baru bisa diterapkan secara bertahap dengan standar yang sama,” ujar Sudaryono, Jumat (16/10/2026).
Pernyataan itu menempatkan kesiapan pelaksana sebagai bagian penting dari uji coba. Sistem prasmanan memberi keleluasaan saat siswa mengambil makanan, tetapi kelancaran layanan tetap bergantung pada pengaturan dapur dan sekolah. BGN belum menyebutkan jadwal penerapan lebih luas dalam bahan yang disampaikan.
Dalam mekanisme yang dijelaskan Sudaryono, setiap siswa lebih dulu menerima porsi awal yang ditakar sesuai standar. Setelah seluruh siswa mendapatkan bagian, makanan tambahan disediakan untuk mereka yang masih membutuhkan, selama persediaannya tersedia.
Porsi awal tetap ditakar, tambahan mengikuti ketersediaan
“Porsi awal tetap harus ditakar sesuai standar. Setelah semua siswa mendapatkan bagiannya, disiapkan pula makanan tambahan untuk siswa yang masih membutuhkan. Dengan begitu, kebutuhan makan siswa dapat dilayani dengan lebih baik,” jelasnya.
Pengaturan ini membedakan prasmanan MBG dari pola pembagian makanan yang sepenuhnya menetapkan jumlah porsi sejak awal. Siswa dapat mengambil kembali makanan, tetapi tambahan bukan berarti persediaan tanpa batas: layanan tetap mengikuti makanan yang disiapkan sekolah.
Dampaknya terasa langsung pada pengalaman makan di sekolah. Siswa yang masih lapar berpeluang memperoleh tambahan setelah pembagian awal selesai, sementara porsi pertama tetap menjaga acuan pemenuhan gizi. Bagi pengelola, metode ini menuntut perencanaan jumlah makanan dan alur pelayanan yang cermat agar kebutuhan tambahan tidak mengganggu jatah siswa lain.
Uji coba di SMP Kemala Bhayangkari 3 Jakarta juga memberi konteks lain. Republika menyebut penerapan di sekolah itu telah berlangsung sejak 5 Oktober 2026 dan ditujukan untuk menekan sisa makanan serta membiasakan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan.
Informasi tersebut berasal dari laporan Republika, sementara BGN menjelaskan rencana penerapan bertahap secara lebih luas dengan evaluasi dan kesiapan sebagai pertimbangan.
Pengalaman mengambil makanan sendiri dapat membantu siswa mengenali kebutuhan makannya, tetapi hasilnya bergantung pada kebiasaan dan pengawasan di sekolah. Karena itu, latihan bagi dapur dan sekolah tidak hanya terkait penyajian, melainkan juga pengaturan agar makanan tersedia secara tertib dan tambahan dibagikan setelah porsi awal semua siswa terpenuhi.
BGN belum menetapkan perluasan sistem secara serentak. Arah yang disampaikan Sudaryono adalah membuka kesempatan uji coba, mengevaluasi pelaksanaannya, lalu bergerak bertahap setelah sekolah dan dapur siap. Ia menegaskan, “Setelah itu, baru bisa diterapkan secara bertahap dengan standar yang sama.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.