LONDON — Perpisahan dari tim nasional bisa terasa lebih menyakitkan daripada keputusan tak memanggil seorang pemain. Chris Woakes menilai direktur pengelola kriket Inggris, Rob Key, menyampaikan akhir keterlibatannya dengan cara yang dingin dan kurang pantas.
Dalam autobiografinya, The Wizard, mantan fast bowler Inggris itu mengatakan Key seharusnya berbicara dengannya secara pribadi sebelum mengumumkan kepada media bahwa Woakes tidak lagi masuk rencana tim. Woakes menerima pencoretan dari skuad Ashes dan berakhirnya kontrak, tetapi keberatan dengan cara kabar itu disampaikan.
Chris Woakes merasa pantas diajak bicara lebih dulu
Key pernah menyatakan, “Chris Woakes isn’t in our plans,” lalu menegaskan, “at all.” Mengutip tulisan Woakes, The Guardian melaporkan bahwa bagian akhir pernyataan itu terasa dingin dan kurang pantas baginya.
Woakes tidak menggambarkan hubungan mereka sebagai permusuhan. Ia justru menilai pilihan kata Key bisa saja terlontar tanpa maksud seperti yang ia tangkap. Namun, menurutnya, percakapan pribadi semestinya dilakukan sebelum informasi itu disampaikan kepada pers.
“I have always got on well with Rob and maybe those words slipped out, not necessarily how he meant them. But he could have easily had that conversation first with me, rather than the press,” tulis Woakes dalam buku tersebut, seperti dikutip The Guardian.
Ia mengatakan keduanya hampir tidak berbicara sejak kejadian itu. Woakes juga mengakui olahraga profesional bergerak cepat dan menyisakan sedikit ruang untuk loyalitas ketika tim terus beralih ke pemain berikutnya. Ia masih yakin suatu saat mereka akan membicarakan persoalan tersebut.
Dari cedera di The Oval hingga pensiun internasional
Woakes memainkan 217 pertandingan internasional untuk Inggris di berbagai format, termasuk 62 laga Test. Penampilan terakhirnya dalam kriket bola merah terjadi pada Test kelima melawan India di The Oval, Agustus 2025.
Saat itu, ia mengalami dislokasi bahu ketika berjaga di lapangan. Meski cedera, Woakes tetap turun memukul demi membantu tim. Upaya itu tidak membawanya masuk skuad Inggris untuk Ashes, dan ia kemudian mengumumkan pensiun dari kriket internasional.
Keputusan tidak memilih Woakes menjadi bagian dari peralihan tim, tetapi cara pengumuman publik mengubahnya menjadi persoalan hubungan profesional. Bagi pemain yang sudah lama membela negaranya, komunikasi langsung memberi ruang untuk menerima keputusan tanpa harus pertama kali mendengarnya dari pernyataan di media.
Perdebatan ini juga mengingatkan bahwa perubahan skuad bukan sekadar urusan taktik. Cara pengelola menyampaikan keputusan dapat memengaruhi kepercayaan pemain, terutama ketika mereka masih harus memahami posisi dan masa depan kariernya. Woakes sendiri tidak menyangkal bahwa tim perlu bergerak maju; yang ia persoalkan adalah tidak adanya percakapan terlebih dahulu.
Autobiografi Woakes membuka sisi lain perjalanan Inggris
Buku The Wizard juga memuat kisah berbeda dari perjalanan Woakes bersama Inggris. Dalam kutipan terpisah yang diterbitkan The Guardian, ia mengenang perayaan kemenangan Piala Dunia yang dipimpin Eoin Morgan serta suasana tim setelah perayaan mereka dihentikan oleh pihak ECB.
Woakes mengisahkan momen di panggung ketika para pemain merayakan gelar, termasuk candaan Mark Wood kepada Jason Roy. Kisah itu memberi konteks tentang ikatan dan emosi di dalam tim, sementara pengalamannya dengan Key menunjukkan sisi yang lebih getir: hubungan pemain dan pengelola dapat berubah ketika kebutuhan tim bergeser.
Inggris kemudian menutup kampanye Ashes dengan kekalahan 4-1 dari Australia. Woakes tidak mengaitkan hasil itu dengan pencoretannya; catatan tersebut menjadi konteks perjalanan tim setelah ia mengakhiri karier internasionalnya.
Dalam keterangannya di buku itu, Woakes menyebut Key sebagai sosok sibuk yang sudah beralih ke hal lain. Meski komunikasi mereka minim sejak kejadian tersebut, ia mengatakan masih terbuka untuk membicarakannya suatu saat nanti.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.