JAKARTA — Scream or Dance menargetkan keterlibatan 4.000 tenaga kerja pada 2026, naik dari target sekitar 2.750 orang pada penyelenggaraan sebelumnya. Target ini menunjukkan bagaimana festival musik Halloween tersebut ingin memperluas dampaknya, bukan hanya lewat acara, tetapi juga melalui pekerjaan dan kegiatan usaha di belakang panggung.
Head of Business Development Scream or Dance, Tamma Irawan, menyebut pertumbuhan festival perlu dilihat dari peluang yang tercipta bagi pekerja dan talenta kreatif. Scream or Dance kini memasuki penyelenggaraan tahun kelima dengan konsep yang memadukan musik elektronik, seni visual, instalasi tematik, dan pengalaman interaktif.
“Pada penyelenggaraan sebelumnya, target kami adalah melibatkan sekitar 2.750 tenaga kerja. Pada 2026, kami ingin meningkatkan angka tersebut menjadi 4.000 orang,” ujar Tamma.
Ia mengatakan jumlah itu masih berupa target. Namun, menurutnya, kontribusi festival terhadap kesempatan kerja tetap menjadi perhatian dalam pengembangan acara.
Scream or Dance dan target lapangan kerja
Perhitungan kebutuhan tenaga kerja mencakup beragam fungsi, dari persiapan sampai acara berlangsung. Kru produksi panggung, teknisi audio dan pencahayaan, desainer visual, seniman, tim operasional, serta petugas layanan pengunjung menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Festival juga melibatkan vendor dan mitra produksi. Mereka mendukung berbagai kebutuhan acara, sehingga peluang ekonomi tidak hanya terbuka bagi pekerja yang berada langsung di area festival.
Target 4.000 orang itu setara dengan kenaikan 45,5% dibandingkan angka sekitar 2.750 tenaga kerja pada penyelenggaraan sebelumnya. Angka tersebut merupakan target yang disampaikan penyelenggara, bukan jumlah pekerja yang sudah dipastikan terlibat pada 2026.
Perbedaan itu penting bagi pembaca. Target menunjukkan arah yang ingin dicapai, sedangkan realisasi baru dapat diketahui setelah proses perekrutan dan penyelenggaraan berjalan.
“Bagi kami, pertumbuhan Scream or Dance bukan hanya tentang menghadirkan festival yang lebih besar, tetapi juga membuka lebih banyak kesempatan bagi talenta kreatif dan tenaga profesional untuk terlibat, berkarya, dan berkembang bersama industri event Indonesia,” kata Tamma.
Dampak festival menjalar ke usaha pendukung
Aktivitas festival dapat menciptakan permintaan bagi sektor pendukung seperti transportasi, akomodasi, konsumsi, logistik, pengadaan perlengkapan, dan jasa produksi. Dampaknya berpotensi dirasakan pelaku usaha yang terlibat dalam persiapan maupun pelaksanaan acara, meski bahan sumber tidak merinci nilai ekonomi yang dihasilkan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.