Senin, 19 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Penerapan Teknologi terbaru pada Pengelolaan Keuangan Negara

Teknologi pengelolaan keuangan negara melalui sistem anggaran terpadu
Integrasi SPAN dan SAKTI menghubungkan proses pengelolaan anggaran pemerintah. (Ilustrasi: AI)

TOBELO — Penerapan teknologi terbaru pada pengelolaan keuangan negara menghubungkan proses anggaran pemerintah, dari perencanaan hingga pertanggungjawaban, melalui SPAN dan SAKTI. Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan membangun sistem ini untuk membuat pengelolaan APBN lebih efisien, sederhana, dan andal.

Perubahannya menyentuh pekerjaan sehari-hari satuan kerja pemerintah: aplikasi yang sebelumnya terpisah disatukan dalam ekosistem data terpadu. Dampaknya bukan sekadar urusan administrasi. Sistem yang mencatat transaksi dan ketersediaan dana juga mendukung pengawasan serta pertanggungjawaban penggunaan uang negara.

Dari SPAN menuju basis data anggaran terpadu

DJPb mulai mengembangkan dan menguji coba Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) pada 2012. Tiga tahun kemudian, sistem itu diterapkan secara menyeluruh di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). SPAN dibangun sebagai sistem informasi manajemen keuangan terintegrasi atau Integrated Financial Management Information System (IFMIS).

Sebelum integrasi, data pengelolaan anggaran tersebar dalam proses yang tidak selalu terhubung. SPAN mengubah tata kelola tersebut dengan menyediakan basis data terpadu. Menurut bahan yang diterbitkan DJPb, sistem ini juga membantu mempercepat penyajian laporan manajerial bagi pimpinan.

Perubahan itu punya arti praktis. Data yang terhubung memudahkan proses pencatatan dan penyusunan laporan, sementara informasi yang lebih cepat tersedia membantu pengelola anggaran memantau pelaksanaan. Sistem digital tidak otomatis menghapus semua risiko, tetapi menyediakan landasan pencatatan yang lebih tertata untuk pemeriksaan dan pengendalian.

DJPb menyebut pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pengelolaan data berkontribusi pada pencapaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat pada 2016.

Klaim itu menunjukkan hubungan yang dikemukakan instansi antara pengelolaan data dan kualitas laporan; sumber tidak menyatakan bahwa teknologi menjadi satu-satunya faktor penentu opini audit.

SAKTI menyatukan proses di tingkat satuan kerja

Perkembangan berikutnya menyasar pekerjaan di satuan kerja kementerian dan lembaga. Pada 2019, DJPb merumuskan inisiatif untuk menyederhanakan proses bisnis dan mengotomatiskan validasi belanja. Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) kemudian diterapkan di seluruh kementerian dan lembaga, menurut keterangan dalam bahan sumber.

SAKTI menyatukan berbagai aplikasi yang sebelumnya digunakan secara terpisah. Sistem ini menghubungkan informasi sejak tahap perencanaan sampai pertanggungjawaban akhir. Dengan begitu, proses keuangan di tingkat instansi dapat berjalan dalam satu ekosistem, sementara SPAN mendukung pengelolaan dan penyajian informasi pada lingkup perbendaharaan.

Peran keduanya saling melengkapi. Integrasi data dari satuan kerja ke sistem perbendaharaan membantu mengurangi pekerjaan berulang dan memberi jejak proses yang lebih jelas. Bagi petugas, perubahan ini berarti prosedur keuangan tidak lagi bergantung pada perpindahan informasi di antara banyak aplikasi yang berdiri sendiri.

Perubahan besar. Namun, integrasi sistem juga menuntut pengguna mengikuti tata kerja yang konsisten agar data yang masuk tetap akurat. Bahan DJPb menekankan otomasi validasi serta penyederhanaan proses, tetapi tidak memuat rincian tentang kendala penerapan atau ukuran penghematan waktu dan biaya.

Jejak transaksi dan kontrol dana lebih terpantau

Salah satu manfaat yang disorot DJPb adalah penguatan audit trail, yakni rekam jejak operasional yang tercatat secara transparan. Catatan yang terhubung dapat membantu proses penelusuran ketika instansi perlu memeriksa tahapan transaksi atau memastikan pertanggungjawaban belanja. Ini penting karena pengawasan keuangan publik memerlukan jejak yang bisa ditelusuri, bukan hanya laporan akhir.

SAKTI juga disebut memberi kontrol atas ketersediaan dana secara presisi untuk memitigasi risiko pelaksanaan anggaran. Bagi satuan kerja, pemantauan tersebut membantu melihat ruang anggaran sebelum menjalankan belanja. Bagi pengelola perbendaharaan, data yang tersambung mendukung pengawasan agar pelaksanaan tetap mengacu pada informasi anggaran yang tercatat.

Manfaatnya terasa pada akuntabilitas layanan APBN. Ketika pencatatan, validasi, dan pelaporan memakai ekosistem yang terintegrasi, instansi memiliki dasar yang lebih jelas untuk menelusuri penggunaan dana. Namun, nilai sistem tetap bergantung pada ketepatan data dan kedisiplinan pengguna dalam menjalankan prosedur; teknologi menyediakan alat, bukan pengganti tanggung jawab pengelolaan.

Transformasi tersebut berlangsung saat konektivitas digital mengubah cara masyarakat dan sektor swasta bertransaksi. Bahan DJPb mengaitkan inisiatif pada 2019 dengan perkembangan startup serta pergeseran menuju transaksi nontunai. Pemerintah merespons perubahan itu dengan membenahi proses internal, bukan hanya menghadirkan layanan digital di sisi luar.

Dalam bahan yang diterbitkan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Tobelo, DJPb menyatakan integrasi SPAN dan SAKTI menunjukkan pemanfaatan teknologi untuk mewujudkan pelayanan APBN yang akuntabel dan modern. Rangkaian sistem itu kini menghubungkan pengelolaan anggaran dari perencanaan sampai pertanggungjawaban, dengan rekam proses yang dapat ditelusuri.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 19 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis