Dalam lima pelatihan independen, metode tersebut menurunkan galat kesimetrisan sudut sendi dari 0.254 radian menjadi 0.003 radian saat evaluasi. Ketimpangan torsi kiri-kanan turun dari 0.205 menjadi 0.034, sementara ketimpangan daya mekanis berkurang dari 0.339 menjadi 0.040.
Demonstrasi fisiknya mencakup berjalan, bangkit dari posisi telungkup, dan mengarahkan kamera ponsel kepada orang tanpa terus memutar kaki. Keempat ponsel yang diuji mendukung fungsi inti aplikasi, seperti pengindraan gerak, kendali berjalan, deteksi visual, dan interaksi manusia. Namun, fitur tertentu tetap berbeda menurut model perangkat.
Biaya rendah, kemampuan gerak masih terbatas
Biaya perangkat keras sekitar $400, di luar ponsel, memberi peneliti dan pembuat robot jalur untuk mencoba platform humanoid tanpa komputer onboard mahal. Mereka dapat memakai ponsel lama yang masih berfungsi sebagai bagian dari sistem pengindraan dan komputasi. Proyek ini juga bersifat sumber terbuka, sehingga komponennya bisa direproduksi dan dimodifikasi.
Dampaknya bukan sekadar soal harga. Penggunaan ponsel yang sudah memiliki kamera dan sensor gerak dapat membuat eksperimen robotika lebih mudah diakses, termasuk untuk pengembangan interaksi visual. Namun, perangkat murah tidak otomatis menjadikan robot siap bekerja di berbagai situasi. Kemampuan geraknya masih menjadi batas nyata.
Servo berdaya rendah membatasi bobot yang dapat dibawa PhoneBot dan gerakan dinamis yang bisa dilakukan dengan andal. Pengendali berjalan saat ini dilatih untuk permukaan datar, sementara robot belum memiliki lengan untuk mengambil atau memindahkan benda. Mobilitas di medan tidak rata juga belum terpecahkan.
Penelitian PhoneBot dipublikasikan di arXiv, repositori daring tempat peneliti membagikan makalah ilmiah sebelum atau bersamaan dengan penerbitan formal yang ditinjau sejawat. Untuk saat ini, salah satu hasil pengujian paling konkret ialah penurunan galat kesimetrisan sendi menjadi 0.003 radian.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.