JAKARTA — Fitur percakapan dan ruang bermain dalam gim daring dapat disalahgunakan untuk menyebarkan propaganda ekstremisme, tetapi gim bukan penyebab langsung radikalisasi. Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fisipol UKI Angel Damayanti menilai orang tua perlu mencermati interaksi anak, terutama ketika komunikasi berpindah ke grup tertutup.
Pernyataan Angel disampaikan di Jakarta dan diberitakan pada Senin, 19 Oktober 2026. Ia juga menjabat Rektor UKI periode 2026–2030. Menurutnya, risiko muncul ketika fitur permainan dipakai untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, atau menjangkau remaja yang rentan.
Gimnya bukan pemicu utama. Penyalahgunaan ruang sosial di dalamnya yang perlu diwaspadai.
Tangkal propaganda radikalisme di game online dengan memahami risikonya
Angel menjelaskan, interaksi yang berulang dapat membangun ikatan emosional di antara pemain. Identitas anonim dan kebebasan merancang skenario maupun simbol permainan juga dapat dimanfaatkan untuk menyisipkan pesan ekstrem.
Dalam pemberitaan JPNN, Angel menyebut kelompok radikal telah menggunakan gim daring sejak dekade 1980-an. Ia juga menjelaskan bahwa pada 2014 ISIS mulai memanfaatkan permainan online, termasuk Call of Duty, untuk menarik perhatian publik dan memulai propaganda.
Perkembangan teknologi membuat pola itu berubah. JPNN mengutip Angel yang mengatakan bahwa risiko bertambah ketika permainan dapat dikustomisasi sejak 2020. Fitur buatan pemain dapat memperluas ruang untuk membentuk konten dan pengalaman bermain, meski keberadaan fitur tersebut sendiri tidak berarti sebuah gim mendorong radikalisme.
Perbedaan pentingnya ada pada cara orang memakai ruang itu. Sebagian besar pemain tidak berkaitan dengan ekstremisme, kata Angel dalam kutipan yang dimuat sumber utama. Karena itu, pembahasan tentang keamanan anak perlu membedakan gim sebagai hiburan dari perilaku pihak yang memanfaatkan interaksi di dalamnya.
Dari ruang bermain menuju grup pesan tertutup
Salah satu pola yang perlu diperhatikan adalah perpindahan komunikasi. Dalam laporan JPNN, Angel menyebut BNPT mengonfirmasi pada Oktober 2025 adanya pola perekrutan yang mengarahkan anak muda dari platform gim ke grup pesan tertutup, seperti WhatsApp atau Telegram, untuk berkomunikasi lebih intensif.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.