Aturan tersebut juga memberi keleluasaan dalam penetapan harga ketika pengadaan berlangsung dalam kondisi mendesak. Harga dapat berbeda menurut volume, jenis produk, negara asal, dan jadwal pengiriman, sepanjang mengikuti kesepakatan dalam kontrak.
Bagi masyarakat, tujuan langsung kebijakan ini adalah membantu pemerintah menjaga ketersediaan energi saat jalur pasokan terganggu.
Stok BBM yang menipis dapat membatasi ruang pemerintah dan penyedia untuk memenuhi kebutuhan, sehingga tambahan skema pengadaan memberi pilihan dalam mengamankan pasokan. Namun, revisi aturan ini mengatur mekanisme pembelian; bahan sumber tidak menyebut perubahan harga jual BBM kepada konsumen.
Informasi dari Antara menguatkan bahwa revisi Perpres ditujukan untuk melancarkan impor minyak mentah dari berbagai negara dan memasukkan BLU ke dalam proses pengadaan. Liputan6 Bisnis juga melaporkan ruang keterlibatan BLU, termasuk Lemigas, dalam pengadaan minyak mentah dan BBM.
Dengan demikian, pembanding mendukung pokok informasi mengenai perluasan peran BLU, sementara rincian kondisi darurat dan fleksibilitas harga merujuk pada bahan utama.
Bahlil juga membedakan situasi impor untuk jenis solar. Menurut keterangannya, Solar CN 48 sudah tidak diimpor, sedangkan sebagian Solar CN 51 masih berasal dari impor. Keterangan itu memberi gambaran bahwa kebutuhan impor tidak seragam untuk setiap jenis BBM.
Ketentuan baru tersebut menempatkan gangguan pasokan dan cadangan di bawah ambang batas sebagai alasan yang dapat membuka jalur pengadaan khusus. Stok Pertalite yang sempat berada di kisaran 16–18 hari menjadi angka yang disebut Bahlil saat menjelaskan urgensi pengamanan BBM nasional.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.