Selasa, 27 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

IHSG Hari Ini Berpeluang Rebound, Analis Jagokan BBNI, TLKM, AADI

IHSG Hari Ini Berpeluang Rebound, Analis Jagokan BBNI, TLKM, AADI
IHSG Hari Ini Berpeluang Rebound, Analis Jagokan BBNI, TLKM, AADI Foto: Katadata

JAKARTA — IHSG hari ini berpeluang rebound, tetapi tekanan rupiah dan aksi jual investor asing masih membayangi perdagangan Selasa (27/10). BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan investor mencermati saham BBNI, TLKM, dan AADI saat indeks bergerak konsolidatif.

Pada perdagangan sebelumnya, Senin (26/10), IHSG turun 1,22% ke level 5.373,09. Koreksi terjadi setelah indeks menguat kuat pada pekan sebelumnya dan sempat kembali menguji level psikologis 5.400.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai pelemahan rupiah turut menekan pasar saham domestik. Rupiah kembali bergerak di kisaran Rp 18.100 per dolar AS, kondisi yang menurut perusahaan sekuritas itu meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan.

“Tekanan juga datang dari pelemahan rupiah yang kembali bergerak di kisaran Rp 18.100 per dolar AS, meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan domestik dan berpotensi membatasi minat investor terhadap aset berisiko,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.

Level support dan resistance IHSG hari ini

Secara teknikal, BRIDS melihat peluang penguatan terbatas selama IHSG mampu bertahan di area support. Indeks belum menembus resistance terdekat di 5.455. Area support berada di kisaran 5.326–5.246.

“Jika support mampu dipertahankan, IHSG berpeluang rebound untuk kembali menguji resistance 5.455–5.545,” tulis BRIDS.

Tantangannya belum ringan. IHSG masih berada di bawah moving average 20 hari (MA20) di level 5.774 dan moving average 200 hari (MA200) di level 6.933. Indikator MACD juga masih negatif karena garis MACD berada di bawah garis sinyal.

Senior Technical Analyst Nafan Aji Gusta juga memperkirakan indeks memiliki peluang melanjutkan pembalikan arah, meski koreksi masih mungkin terjadi. “Secara teknikal, adapun pergerakan IHSG sedang membentuk pembalikan arah (rebound) yang berkelanjutan dari ‘wave 5/(C)/Y’ meskipun mengalami koreksi wajar,” kata Nafan dalam analisisnya.

Nafan menempatkan support IHSG di 5.246 dan 5.111. Sementara itu, resistance berada di 5.455 dan 5.597. Stochastics K_D menunjukkan arah positif, tetapi RSI masih di area negatif dan volume transaksi mengalami penurunan.

Tekanan asing dan katalis pasar pekan ini

Penjualan investor asing masih menjadi beban. Nafan mencatat net foreign sell harian mencapai Rp 2,03 triliun, sedangkan akumulasi jual bersih investor asing sepanjang tahun berjalan mencapai Rp 122,20 triliun. Kinerja IHSG sejak awal tahun tercatat minus 37,86%.

Angka itu membuat ruang untuk memilih saham semakin penting bagi investor. Nafan menyarankan agar investor selektif dan memperhatikan fundamental, kesehatan neraca, prospek pertumbuhan, serta likuiditas perdagangan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjalankan manajemen risiko secara disiplin.

BRIDS merekomendasikan saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) untuk dicermati pada perdagangan hari ini. Rekomendasi tersebut muncul saat indeks masih menghadapi tekanan teknikal dan sentimen eksternal.

Ada tiga katalis yang berpotensi menggerakkan IHSG pekan ini. Pertama, rilis laporan keuangan emiten kuartal III 2026 yang dapat memicu pergerakan sektoral dan mendorong investor membandingkan kinerja fundamental perusahaan.

Kedua, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026. Ketiga, pasar menanti keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) pada 29 Oktober 2026.

Konsensus yang dipantau BRIDS memperkirakan suku bunga acuan akan dipertahankan di kisaran 3,75%–4%. Namun, keputusan menahan suku bunga belum tentu menandakan pelonggaran kebijakan moneter AS.

Nafan menyoroti inflasi Amerika Serikat pada September 2026 yang tercatat 3,7% secara tahunan, jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Kenaikan harga energi, terutama akibat konflik AS-Iran, turut menambah risiko tekanan inflasi.

“Dengan demikian, fokus investor bukan hanya pada keputusan suku bunga Oktober, melainkan juga pada indikasi kebijakan moneter selanjutnya, terutama kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026,” kata Nafan.

Laporan keuangan emiten ikut dinanti

Perhatian pasar juga tertuju pada laporan keuangan perusahaan berkapitalisasi besar. Di pasar global, Microsoft dan Alphabet dijadwalkan menyampaikan laporan keuangan pada Rabu (28/10), disusul Amazon pada Kamis (29/10).

Di dalam negeri, laporan sektor perbankan menjadi agenda yang dipantau. Bank Mandiri (BMRI) diperkirakan mengumumkan kinerja kuartal III pada Selasa (27/10). Bank Syariah Indonesia (BRIS) dijadwalkan pada Kamis (29/10), sedangkan BBRI, BBTN, dan BDMN diperkirakan menyusul pada Jumat (30/10).

Perkembangan rupiah, posisi IHSG terhadap area support, serta respons pasar terhadap laporan emiten dan keputusan The Fed akan menjadi perhatian pada sesi-sesi berikutnya. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor; informasi ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair