Contoh yang ia kemukakan adalah managed identities, fitur keamanan yang dikembangkan tim Microsoft Entra pada 2017. Fitur itu memungkinkan aplikasi dan layanan melakukan autentikasi tanpa menanamkan rahasia konvensional langsung di dalam kode.
Menurut Fernando, tim pengembang menghadapi kesulitan saat mengajak unit lain mengadopsi fitur tersebut. Setiap tim memiliki prioritas dan pengambil keputusan sendiri. Akibatnya, teknologi yang dianggap bermanfaat tidak langsung digunakan secara luas.
Adopsinya, kata Fernando, baru meningkat setelah Microsoft mengalami insiden keamanan dan meluncurkan Secure Future Initiative (SFI), upaya perusahaan untuk memperkuat keamanan. “Microsoft harus diretas terlebih dahulu, dan Secure Future Initiative diluncurkan setelah itu, sebelum berbagai hal benar-benar bergerak,” tulisnya.
Kecepatan adopsi ikut menentukan persaingan AI
Kritik Fernando menyoroti persoalan yang berbeda dari kemampuan teknis AI: perusahaan juga harus membuat teknologi baru bisa dipakai lintas tim. Agen AI dapat menjalankan rangkaian tugas, tetapi penerapannya di organisasi tetap menuntut koordinasi dan keputusan internal.
Jika tiap unit bergerak dengan prioritas sendiri, kecepatan pengembangan produk tidak otomatis berujung pada penggunaan yang luas.
Bagi industri teknologi, perdebatan ini menyangkut lebih dari jumlah karyawan. Perubahan cara kerja dapat memengaruhi bagaimana perusahaan membagi tanggung jawab antara manusia dan sistem AI, serta seberapa cepat produk baru sampai ke pengguna. Namun, dalam kasus Microsoft, program pengunduran diri sukarela belum diumumkan sebagai bagian dari strategi tersebut.
Fernando memakai pengalaman managed identities untuk menggambarkan lamanya perubahan internal. Ia mengatakan fitur itu akhirnya didukung hampir setiap aplikasi dan layanan Microsoft. “Enam tahun, dan sebuah insiden keamanan besar, untuk sampai ke sana.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.