Kamis, 29 Oktober 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Suara dari Kalimantan di Tengah Demo Bundaran HI: Kami Hirup Racun Karhutla

Suara dari Kalimantan di Tengah Demo Bundaran HI
Suara dari Kalimantan di Tengah Demo Bundaran HI Foto: Katadata

JAKARTA — Warga Kalimantan Tengah menuntut udara bersih di tengah karhutla yang membuat mereka menghirup asap, debu, abu, dan batu bara terbakar. Suara itu dibawa perwakilan mahasiswa UIN Palangkaraya, Yuyun Sanjaya, ke aksi Hari Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (28/10).

Bagi warga yang menghadapi polusi berbulan-bulan, udara bersih bukan sekadar seruan dalam demonstrasi. Yuyun menyampaikan tuntutan itu di hadapan massa aksi, sekaligus meminta agar krisis ekologis di Kalimantan tidak dianggap sebagai persoalan daerah semata.

Warga menghirup campuran asap dan debu

Yuyun mengatakan dampak karhutla yang dirasakan masyarakat tidak terbatas pada asap. Menurut dia, kebakaran juga membakar batu bara yang sebelumnya dikeruk dan dieksploitasi di Kalimantan.

“Oleh-oleh yang terbaik yang kami bawa dari daerah ke Ibu Kota… adalah udara segar yang harus menjadi hak dasar dari masyarakat Kalimantan Tengah,” kata Yuyun.

Ia menggambarkan kondisi udara yang dihadapi warga sebagai campuran berbagai material dari kebakaran dan aktivitas tambang. “Tapi apa yang kami rasakan di Kalimantan bukan lagi tentang kami menghirup asap semata; asap itu sudah bercampur dengan debu, abu, dan batu bara yang ikut terbakar akibat karhutla,” ujarnya.

Dampaknya terasa langsung dalam kehidupan warga yang mesti menjalani hari-hari di tengah polusi. Keluhan mereka, kata Yuyun, belum dianggap layak untuk dibawa ke tingkat nasional. Situasi itu membuat persoalan udara bersih sekaligus menjadi tuntutan agar suara masyarakat daerah didengar pemerintah.

Karhutla Kalimantan dibawa ke Bundaran HI

Yuyun mengeluhkan tanggapan pemerintah terhadap aduan warga. “Ketika kami sampaikan kepada pemerintah, mereka hanya mengatakan bahwa ini belum layak untuk diangkat menjadi isu nasional,” katanya.

Pesan tersebut terlihat pula pada poster yang dibentangkan demonstran di sekitar lokasi aksi. Sejumlah tulisan meminta api dipadamkan tanpa membungkam suara warga, menyerukan penyelamatan lingkungan, dan mendesak pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional.

Poster-poster itu menghubungkan kebakaran hutan dengan masa depan warga dan satwa yang hidup di lingkungan terdampak. Bagi peserta aksi, persoalannya bukan hanya kebakaran yang terlihat, tetapi juga udara kotor yang harus dihirup masyarakat serta kerusakan ekologis yang mereka suarakan.

Komunitas Brand New Indonesia juga membuka posko bantuan khusus untuk Kalimantan di area demonstrasi. Mereka sekaligus menggalang petisi yang mendesak pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional.

Aksi di Bundaran HI pun menjadi ruang bagi warga daerah untuk membawa tuntutan langsung ke ibu kota: pengakuan atas krisis yang mereka hadapi dan hak untuk menghirup udara bersih. Yuyun menegaskan, “Ketika kami sampaikan kepada pemerintah, mereka hanya mengatakan bahwa ini belum layak untuk diangkat menjadi isu nasional.”

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda