PALEMBANG — BMKG menyebut operasi modifikasi cuaca (OMC) membantu memadamkan karhutla di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah sejak sekitar 18 Oktober 2026. Hujan lebat dapat memadamkan api di permukaan dalam satu kejadian, tetapi bara di bawah gambut masih berisiko menyala kembali.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan hujan dengan intensitas tinggi dan cakupan luas sangat membantu petugas Manggala Agni. BMKG masih memprioritaskan dua provinsi itu hingga Jumat (30/10), meski jumlah titik panas dalam tiga hingga empat hari terakhir berkurang drastis.
“Kawan-kawan Manggala Agni itu mereka sangat terbantu kalau terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan dalam cakupan yang cukup luas,” kata Budi saat dihubungi kumparan, Jumat (30/10).
Mengapa OMC karhutla membantu pemadaman?
Hujan membawa volume air jauh lebih besar daripada helikopter water bombing yang harus mengambil dan menjatuhkan air berulang kali. Menurut Budi, bila hujan turun di area kebakaran, satu kejadian hujan dapat memadamkan api di permukaan pada lokasi tertentu.
Namun, hujan tidak otomatis menuntaskan kebakaran di lahan gambut. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah, sementara bagian atasnya tampak sudah padam. Bara yang tersembunyi itu berpotensi muncul lagi setelah satu hingga dua hari tanpa hujan, apalagi ketika angin bertiup kencang.
Karena itu, petugas darat Manggala Agni tetap memeriksa lokasi untuk menemukan titik api tersisa. Tim darat berkoordinasi dengan BMKG, sementara BNPB mengerahkan helikopter untuk membantu pemantauan dan pemadaman. Pengarahan bersama berlangsung setiap pagi dan sore dari Posko Halim.
Dampaknya terasa langsung bagi warga di wilayah terdampak: hujan dapat meringankan kerja pemadam dan membantu menekan kebakaran, tetapi kondisi permukaan yang basah belum menjamin api di gambut benar-benar hilang. Pemantauan setelah hujan tetap penting agar asap dan kebakaran susulan tidak luput dari penanganan.
Sumsel dan Kalteng tetap jadi prioritas OMC
Budi mengatakan operasi dimulai sekitar 18 Oktober 2026 setelah arahan Presiden Prabowo Subianto kepada sejumlah pimpinan kementerian dan lembaga, termasuk Kepala BMKG dan Panglima TNI. Palembang di Sumatera Selatan dan Palangka Raya di Kalimantan Tengah menjadi wilayah prioritas saat kualitas udara di kedua provinsi dinilai sangat buruk dibandingkan provinsi lain.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.