Bagi masyarakat dan mitra luar negeri Bulgaria, arah kebijakan Yotova menjadi penting karena negara itu berada di antara orientasi pro-Eropa dan sentimen pro-Rusia yang masih kuat. Perbedaan sikap tersebut berakar pada hubungan sejarah dan budaya dengan Rusia, lalu semakin terasa setelah Moskow melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina.
Kebijakan Ukraina dan Rusia menjadi perhatian
Yotova dan Radev sama-sama menyerukan penyelesaian perang di Ukraina melalui diplomasi. Namun, keduanya belum memberikan jawaban tegas mengenai kemungkinan keterlibatan Rusia dalam serangan drone di kawasan Laut Hitam.
Yotova menolak tambahan bantuan militer Bulgaria untuk Ukraina. Ia berulang kali menyatakan konflik itu tidak dapat diakhiri lewat jalur militer dan mendorong pembentukan “koalisi perdamaian” yang berfokus pada diplomasi.
Ia diperkirakan melanjutkan pendekatan Radev: menjaga orientasi pro-Eropa Bulgaria sembari mendorong perbaikan hubungan dengan Rusia dan pencabutan sanksi terhadap negara itu. Sikap tersebut akan diuji dalam praktik kebijakan luar negeri, terutama karena parlemen secara umum mendukung orientasi pro-Barat.
Yotova, 62 tahun, mengambil alih jabatan presiden pada Januari setelah Radev mundur untuk maju dalam pemilihan parlemen. Kali ini, ia berusaha memperoleh dukungan langsung pemilih dan memenangkan pilpres bersama calon wakil presiden Kiril Valchev, pengacara serta jurnalis berusia 53 tahun yang memimpin kantor berita resmi Bulgaria sejak 2021.
Karier Yotova bermula sebagai jurnalis televisi pada 1990-an. Ia kemudian menjadi anggota parlemen Bulgaria dan anggota Parlemen Eropa melalui Partai Sosialis, sebelum terpilih sebagai wakil presiden mendampingi Radev pada 2016 dan 2021.
Bulgaria bergabung dengan NATO pada 2004 dan Uni Eropa pada 2007. Kini, hasil pemilihan memberi Yotova mandat presiden dengan dukungan 57,6 persen suara.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.