LUMAJANG — Khofifah Indar Parawansa menyerahkan santunan dan bantuan renovasi rumah kepada keluarga korban longsor di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Gubernur Jawa Timur itu menemui keluarga Imron Rosadi dan putrinya, Hilya, yang meninggal setelah tertimbun material longsor.
Bantuan mencakup material untuk memperbaiki rumah serta sembako bagi warga sekitar. Di tengah keluarga yang berduka, kedatangan Khofifah juga membawa dukungan moril dan menjadi pengingat bahwa ancaman longsor meningkat saat hujan berintensitas tinggi mulai turun.
Khofifah menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban. “Innalilahi Wa Inailaihi Rajiun mudah mudahan almarhum dan almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Seluruh khilafnya diampuni dan diterima seluruh amal baik serta dipanggil dalam keadaan husnul khotimah,” kata Khofifah dalam keterangannya, Selasa.
Santunan longsor Lumajang dan bantuan renovasi
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyalurkan material bangunan berupa 75 sak semen Portland, 5.000 buah bata merah, 1.500 buah genteng, dan 60 batang kayu balok. Keluarga korban juga menerima santunan, sementara bantuan sembako diberikan kepada masyarakat sekitar.
Bantuan material itu ditujukan untuk mendukung renovasi rumah keluarga korban. Bagi warga yang kehilangan anggota keluarga sekaligus menghadapi kerusakan rumah, dukungan tersebut membantu kebutuhan pemulihan yang langsung terasa setelah bencana. Namun, ancaman longsor di kawasan perbukitan tetap membutuhkan langkah pencegahan dari pemerintah dan warga.
Bupati Lumajang Indah Amperawati mengapresiasi kedatangan Khofifah ke rumah duka. Ia menilai kehadiran gubernur memberi dukungan kepada keluarga korban. “Saya meyakini bahwa kehadiran Ibu Khofifah menemui keluarga korban dapat memberikan suntikan dan keberkahan,” ujarnya.
Mengapa kewaspadaan longsor perlu ditingkatkan?
Khofifah meminta warga dan pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan selama peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. Sejumlah wilayah Jawa Timur masih menghadapi kekeringan dan kelangkaan air bersih, sementara daerah lain mulai diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Menurut Khofifah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur masih mendistribusikan air bersih ke sejumlah lokasi. Ia juga menyebut prediksi puncak kekeringan di Jawa Timur telah direvisi: dari September menjadi November.
Hujan diprediksi mulai berlangsung pada Desember hingga Februari 2027. Khofifah menyambut turunnya hujan di sejumlah wilayah, tetapi mengingatkan bahwa perubahan cuaca harus diiringi kesiapan menghadapi bencana hidrometeorologi, termasuk longsor di kawasan perbukitan dan lereng.
Trenggalek, Malang, dan Lumajang telah mengalami kejadian longsor. Bagi warga yang tinggal di kawasan rawan, kondisi itu membuat pengenalan tanda bahaya dan komunikasi cepat menjadi penting. Evakuasi lebih dini dapat dilakukan ketika warga dan aparat mengetahui ancaman di lingkungan masing-masing.
Kesiapsiagaan diminta sampai tingkat RT dan RW
Khofifah mendorong kewaspadaan berlapis, mulai dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota hingga kecamatan, desa, serta lingkungan RT dan RW. Ia menekankan kesiapsiagaan berbasis komunitas agar warga dapat mengenali potensi ancaman dan memperkuat komunikasi saat keadaan darurat.
“Bagaimana secara komunitas, apakah RT, RW, desa, sama-sama membangun kewaspadaan dari desa setempat. Jangan sampai kemudian ada bencana alam yang berdampak pada hilangnya saudara-saudara kita dan akhirnya mereka meninggal dunia,” ujarnya.
Ia mengingatkan Indonesia, termasuk Jawa Timur, berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Karena itu, mitigasi dan kesiapsiagaan perlu menjadi kebiasaan, bukan baru dijalankan setelah bencana terjadi.
Khofifah mengajak pemerintah, aparat, relawan kebencanaan, dan masyarakat memperkuat koordinasi hingga tingkat lingkungan. “Kewaspadaan berganda itu harus dilakukan oleh semua pihak, semua lini,” katanya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.