JAKARTA — Pencalonan Kozo Tashima membuka persaingan baru untuk kursi Presiden FIFA dan memberi Gianni Infantino penantang dari Jepang. Tashima mengumumkan niat maju dengan dukungan penuh Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA), menjelang pemilihan yang dijadwalkan pada Maret 2027.
Tashima menjadi kandidat kedua yang menyatakan diri maju setelah mantan bek Tottenham Hotspur, Ramon Vega. Sementara itu, Infantino juga berniat kembali mencalonkan diri, sehingga pemilihan mendatang berpotensi menjadi pertarungan untuk menentukan arah kepemimpinan sepak bola dunia.
Kozo Tashima maju sebagai calon Presiden FIFA
Presiden kehormatan JFA itu mengatakan pencalonannya membawa nilai yang ia anggap penting bagi FIFA. “Ini bukan soal menang atau kalah, tetapi tentang menyampaikan kepada dunia sikap jujur, sehat, dan berintegritas yang telah dibangun sepak bola Jepang. FIFA membutuhkan nilai-nilai yang selama ini kami lindungi,” ujar Tashima.
Dukungan asosiasi nasional menjadi modal awalnya. Namun, setiap calon tetap harus mengantongi dukungan sedikitnya lima dari 211 asosiasi anggota FIFA agar memenuhi syarat mengikuti pemilihan. Batas waktu untuk mengumumkan pencalonan jatuh pada 18 November 2026.
Langkah Tashima membawa pertarungan ini lebih dari sekadar pergantian nama di pucuk organisasi. Jika ia lolos sebagai kandidat, para anggota FIFA akan menghadapi pilihan antara kepemimpinan yang berlanjut di bawah Infantino dan tawaran perubahan yang dibawa pesaingnya. Arah pengelolaan sepak bola dunia menjadi taruhannya.
Kontroversi FIFA menambah tekanan bagi Infantino
Pencalonan itu muncul setelah FIFA membatalkan proposal FIFA Forward Enterprise (FFE). Rencana tersebut memungkinkan organisasi menjual sebagian kepemilikan turnamen yang dikelolanya, termasuk Piala Dunia, kepada pihak swasta. Pembatalan proposal itu ikut memicu sorotan terhadap kepemimpinan Infantino.
Tashima mengambil posisi dengan menekankan integritas dan nilai-nilai sepak bola Jepang. Namun, ia tidak hanya membawa pesan moral: pengalaman di dalam organisasi sepak bola internasional juga menjadi bagian dari rekam jejaknya. Ia pernah menjadi pemain tim nasional Jepang, lalu beralih dari karier sebagai pemain dan pelatih ke administrasi sepak bola.
Tashima duduk di Dewan FIFA sejak 2015 dan kini menjabat Presiden JFA. Ia juga pernah tujuh kali memperkuat tim nasional Jepang. Pengalaman tersebut memberinya sudut pandang sebagai mantan pemain sekaligus pengelola federasi ketika ia menantang petahana.
Infantino memimpin FIFA sejak 2016, setelah Sepp Blatter mengundurkan diri setahun sebelumnya menyusul skandal. Ia terpilih kembali tanpa pesaing pada 2019 dan 2023, sedangkan rencana pencalonan berikutnya masih menjadi perhatian. Kali ini, ia menghadapi kandidat yang telah memperoleh dukungan resmi dari federasi sepak bola Jepang.
Persaingan masih ditentukan dukungan anggota FIFA
Pengumuman Tashima belum otomatis memastikan siapa yang akan berada di surat suara. Ia harus memenuhi ambang dukungan lima asosiasi anggota, sementara Vega juga telah menyatakan niatnya maju. Posisi Infantino sebagai petahana membuat kontestasi ini berpusat pada dukungan federasi dan penilaian mereka terhadap kepemimpinan FIFA.
Bagi sepak bola Jepang, dukungan JFA mengangkat pencalonan Tashima ke panggung internasional. Bagi anggota FIFA, persaingan ini membuka ruang untuk menilai bukan hanya figur kandidat, melainkan juga kebijakan yang akan mereka bawa terhadap turnamen dan tata kelola organisasi.
Dengan tenggat pencalonan pada 18 November 2026 dan pemilihan pada Maret 2027, perhatian berikutnya tertuju pada dukungan asosiasi yang bisa dikumpulkan para kandidat. Tashima menyebut alasan utamanya dengan tegas: “FIFA membutuhkan nilai-nilai yang selama ini kami lindungi.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.