Minggu, 8 November 2026 WIB
EKONOMI

Sri Prakash Lohia Bangun Indorama, Kekayaan Capai Rp 155 Triliun

Sri Prakash Lohia Bangun Indorama, Kekayaan Capai Rp 155 Triliun
Sri Prakash Lohia Bangun Indorama, Kekayaan Capai Rp 155 Triliun

PURWAKARTA — Kekayaan Sri Prakash Lohia kini mencapai sekitar Rp 155 triliun, setelah bisnis benang yang dirintis di Purwakarta berkembang menjadi usaha petrokimia berskala global. Perjalanannya menunjukkan bagaimana ekspansi dari industri tekstil dapat membawa dampak besar bagi produksi bahan baku dan lapangan kerja.

Lohia bersama ayahnya, Mohan Lal Lohia, mendirikan Indorama Synthetics di Purwakarta pada 1974 untuk memproduksi benang tekstil murah. Ia datang ke Indonesia dari India saat masih muda, lalu ikut mengembangkan perusahaan dari pabrik kecil menjadi bagian dari Indorama Corp yang beroperasi di puluhan negara.

Angka kekayaan itu menempatkan Sri Prakash Lohia di antara orang terkaya di Indonesia. Forbes mencatat kekayaan bersihnya sekitar US$ 8,6 miliar atau Rp 155 triliun, dengan kurs Rp 18.116 per US$.

Sri Prakash Lohia dan awal Indorama di Purwakarta

Indorama Synthetics berdiri ketika Lohia masih harus menyesuaikan diri dengan bahasa dan budaya Indonesia. Perusahaan memulai usaha dari benang tekstil, produk yang menjadi pijakan untuk masuk ke segmen industri lain.

Pengalaman mengelola operasional pabrik menjadi bekal saat perusahaan mulai bergerak menuju petrokimia. Langkah itu memperluas cakupan usaha dari bahan tekstil ke bahan baku plastik, termasuk PET. Dengan menguasai lebih banyak bagian rantai pasok, Indorama membangun bisnis yang tidak lagi bergantung pada satu jenis produk.

Perubahannya berlangsung bertahap. Pabrik di Purwakarta menjadi titik awal, sementara strategi ekspansi dan akuisisi membawa perusahaan ke pasar internasional. Indorama Corp kemudian beroperasi di puluhan negara dan mencatat pendapatan miliaran dolar.

Akuisisi kilang Nigeria mengubah skala bisnis

Ekspansi penting terjadi pada 2006, ketika Lohia membeli Eleme Petrochemicals di Nigeria seharga US$ 225 juta. Kilang itu dibeli dari pemerintah setempat dalam keadaan terbengkalai dan dinilai sebagai aset yang sulit diselamatkan.

Lohia mengambil risiko besar. Setelah dirombak, Eleme kembali beroperasi dalam hitungan bulan dan berkembang menjadi salah satu produsen bahan baku plastik terbesar di Afrika. Akuisisi itu memperluas jangkauan Indorama sekaligus mengubah fasilitas yang tak beroperasi menjadi kegiatan industri produktif.

Dampaknya melampaui perusahaan. Pengoperasian kembali kilang tersebut disebut membantu menyelamatkan devisa Nigeria hingga miliaran dolar dan membuka belasan ribu lapangan kerja baru. Bagi industri, kapasitas produksi bahan baku plastik di Afrika bertambah; bagi pekerja setempat, kebangkitan fasilitas itu menciptakan kesempatan kerja dalam skala besar.

Perubahan itu terasa nyata.

Strategi Lohia bertumpu pada perluasan rantai pasok, dari benang hingga bahan baku plastik. Indorama dapat bergerak ke bisnis dengan skala dan kebutuhan berbeda, sementara akuisisi memberi jalan masuk ke pasar yang sebelumnya belum menjadi pusat operasinya.

Kisah Eleme juga memperlihatkan bahwa aset industri terbengkalai dapat kembali menghasilkan ketika perusahaan bersedia menanamkan modal dan mengelola operasinya.

Bagaimana Lohia menghadapi risiko di Nigeria?

Keberanian mengambil risiko tidak hanya terlihat dalam keputusan bisnis. Pada 2007, dua insinyur kunci Indorama diculik di Nigeria. Lohia terbang ke lokasi krisis dan memimpin negosiasi hingga kedua karyawannya selamat.

Dalam pandangannya, pemimpin perlu berinvestasi ketika situasi sulit sekaligus bertanggung jawab terhadap karyawan. Tindakannya saat penculikan itu menjadi contoh langsung dari prinsip tersebut: ia datang ke lokasi, bukan sekadar memantau dari jauh.

Bagi perusahaan yang beroperasi lintas negara, keputusan ekspansi membawa konsekuensi pada pengelolaan fasilitas dan keselamatan pekerja. Pengalaman Lohia di Nigeria memperlihatkan bahwa membangun bisnis di pasar baru tidak berhenti pada pembelian aset atau peningkatan produksi. Kepemimpinan saat krisis ikut menentukan bagaimana perusahaan menjaga orang-orang yang menjalankan operasinya.

Dari Purwakarta hingga Nigeria, ekspansi Indorama membawa bisnis Lohia dari benang tekstil ke petrokimia dan bahan baku plastik. Perhatian berikutnya tertuju pada bagaimana perusahaan mempertahankan operasi dan pertumbuhan di puluhan negara yang menjadi jangkauan bisnisnya.

(ZA)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuKuis Sejarah Hari Pahlawan: 10 Soal Pertempuran Surabaya 1945, Berapa Skormu? →
TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair